Bersepeda Dari Ancol Sampai Borobudur

Bersepeda Dari Ancol Sampai Borobudur
Sebelum cerita tentang perjalanan ke Borobudur ini dimulai mungkin lebih asik kalau kita mengenal tokoh utama dari perjalanan yang mendebarkan ini, sebut saja “bakule”. Sejarah kenapa bisa dipanggil bakule ini kalau ditulis bisa menghabiskan kertas 1 rim sendiri, yang jelas tidak jauh dari hal yang berbau makanan. Usia 30 tahun (bujang;)) tb/bb, 166/74 (kira-kira saja). Semenjak kenal dengan orang satu ini tepatnya ketika masih makan bangku SMA, saya tidak benar-benar tahu apa hobi dari orang satu ini. Musik.. tidak begitu mencolok, paling banter ikutan nonton konser. Olah-raga.. paling juga Cuma iseng-iseng maen basket ketika jam kosong pelajaran atau ikutan naik gunung. Prestasi juga biasa-biasa saja. Satu hal yang sangat menggemparkan ketika itu adalah saat namanya terpampang di papan pengumuman sekolah sebagai salah satu siswa yang lolos seleksi pertama masuk UGM kalau ndak salah UM UGM nama seleksinya… weiitss jangan salah sagka dulu, bukan berarti saya tidak diterima, Saya itu termasuk salah satu dari dua orang yang tidak ikut seleksi ketika itu =))… Lah kok malah nostalgia. Yang jelas orang ini salah satu dari beberapa sahabat saya yang istimewa. Ah… harusnya cerita ini ditulis sama mas bakule, secara dia kan anak sastra… =D
SMA pun lewat  saya sudah tidak tau lagi kegiatan orang ini, hanya di momen-momen tertentu saja kita ketemu. Beberapa bulan yang lalu secara mengejutkan dia pamer hobi baru (lebih tepatnya sekarang punya hobi hehe…). Dia ceritakan bagaimana dia mengorbankan laptop kesayanganya sebagai tambahan untuk beli sepeda baru. Saya pikir orang ini sekarang mau jadi aktivis lingkungan. Ternyata dia pengen nyoba gowes…(hm aku kok ndak terlalu suka pake istilah ini ya 🙁 ). Katanya sih karena badan yang semakin melebar dengan berat badan yang tidak terkontrol, mau olah raga selain sepeda ndak ada yang bisa katanya. Kemudian sekitar dua kali kita bersepeda bareng lewat rute kulon progo. Sekalian mampir di rumah temen. Tapi setelah itu saya break karena pilek yang tak kunjung reda. Dan tampaknya si bakule ini sudah menemukan teman dan komunitas baru. Wall facebook isinya gambar-gambar kegiatan bersepedanya. Dari pakem, UGM sampai Malioboro, heran saya… kenapa harus foto ditempat-tempat yang kondang seperti itu. Emang biasanya gini orang-orang yang bersepeda narsis ditempat-tempat yang mudah dikenali orang atau tempat-tempat wisata gitu, pokoke pamer sithik rapopo biar keliatan nyampe jauh.
Semingguan yang lalu si bakule ini mengajak naik sepeda ke  candi Borobudur taulah di mana candi ini, candi yang beberapa waktu lalu bikin geger seisi nusantara karena dicoret dari daftar 7 keajaiban dunia. Ada juga sih yang sempat bilang kalau memang Borobudur itu tidak pernah masuk ke dalam 7 keajaiban dunia. Awalnya saya tolak ajakan itu karena memang sudah ada rencana sendiri. Meskipun pada akhirnya acara saya dibatalkan dan saya ikut acara itu. Kesepakatan semula bahwa kita akan ketemu di Ancol Bligo (bukan ancolnya Jakarta) Dia hanya bilang mereka akan berangkat dari seyegan pukul 05.00. Dan minggu paginya saya siap-siap setelah sholat subuh dan  ngopi, kopi juga belum diminum sudah ada pesen masuk, katanya sudah pada berangkat. Karena sayang kalau kopinya harus nganggur maka saya habiskan dulu kopinya. Tepat 5.40 saya genjot pedal sepeda, ngebut… kasihan nanti kalau bakule C.S kelamaan nunggunya. Jalanan masih sepi hanya 1 – 2 saja terlihat orang naik sepeda, karena biasanya baru rame ketika sudah agak siang. Orang-orang desa ndak ada yang sempet olahraga beginian. Wong tiap hari ke sawah keringetnya udah ngucur,. Seeeettt… sepeda saya rem, nyampe juga di pertigaan masuk ke ancol dengan waktu 25 menit. Lah masih sepi.,.. daripada ndak ada kepastian akhirnya saya telpon bakule menanyakan posisinya. Dan ternyata, mereka masih jauh di belakang, melenceng dari yang semula mau nyebrang kali progo di Ancol tapi mereka milih lewat jembatan gantung duwet.   Minum dulu sambil nunggu, sekitar 7 menit muncullah dari arah selatan mas bakule dengan rombonganya.
Awalnya sempet bingung rombongannya ini apa bukan, bakule udah tampak beda dari pertama kali memamerkan sepedannya. Baju ala sepeda, pake sepatu sepedanya udah modif, handle bar (bahasa belandanya stang) udah diganti yang lebih gagah. Weiisss… baru dua minggu perubahannya udah banyak sekali, mirip orang keracunan saja. Oh ya dikalangan penghobi sepeda ini ada istilah keracunan , setahu saya ini seperti hasrat untuk terus melakukan modifikasi atau upgrade sepeda. Ndak salah sih wong memang sepedanya mungkin jadi lebih nyaman. Nah dari sini perjalanan dimulai, ternyata ada beberapa orang tua yang ikut dalam rombongan ini dan katanya baru kali ini ikutan naik sepeda. Luar biasa… baru sekali langsung nyampe borobudur. Setidaknya menempuh jarak 20-24 km. Tanjakan pertama dimulai tidak terlalu terjal namun cukup panjang.  Satu persatu peserta mulai menampakkan kelelahannya hehehe tak terkecuali bakule dengan sepatu barunya.  Setelah menunggu lumayan lama di persimpangan, akhirnya semua berkumpul. Sambil terengah-engah musyawarah dimulai. Ada dua pilihan rute yang bisa diambil, pertama jalan sedikit memutar tapi cukup landai dengan asap knalpot truk sebagai bonusnya. Kedua, jalan alternatif dengan medan naik turun dengan waktu tempuh sedikit lebih singkat. Saya sih merekomendasikan jalan ini selain karena pemandangan dan bebas asap knalpot yang lebih penting adalah menjaga gengsi hahahaha…. masak pake sepeda gunung di jalan raya hahaha….
Semua setuju, kita ambil pilihan kedua, dimulai dari pasar jagalan yang pas pada hari itu sedang pasaran (jadwal pasar buka 😀 ) Kemudian kita mendapat tanjakan pertama, semua lulus di tanjakan ini dengan sempurna. Dan jreng… tak sia-sia lewat jalan ini, di kanan pemandangan kali progo cukup jadi pengalih perhatian dari suara nafas yang makin menderu. Kebetulan juga ketika itu jalanan sedikit sepi. Padahal 2-3 tahun lalu ketika lahar dingin merapi mencapai puncaknya dan memutus akses dari yogyakarta –magelang jalan ini menajdi salah satu alternatif untuk menuju magelang,  ditambah dengan aktivitas penambangan pasir dari pinggiran kali progo membuat jalan ini sangat padat. Namun ketika jalan yogyakarta magelang sudah normal jalan ini sudah tidak semacet dulu.
Tanjakan kecil turunan sedikit landai masih bisa ngobrol dengan asyik,  ditengah asyiknya ngobrol sampailah di tanjakan yang paling panjang dengan kemiringan yang cukup bisa membuat dengkul lemas. Beberapa anggota rombongan sudah ada didepan. Saya hanya  pelan-pelan sambil menunggu yang masih dibelakang. Lha kok ditunggu ndak dateng-dateng, akhirnya saya ikut berhenti karena rombongan yang sudah di depan tadi berhenti. Dan disinilah puncak bukit yang dari tadi kita daki
mas bakule kaos putih-biru
hehe… jadi inget naik gunung aja. Sesaat kemudian rombongan yang dibelakang kelihatan juga, Tapi loh kok seperti parade pada kompak nuntun (ndak tahu bahasa Indonesianya) sepeda kalau pak RT dan yang lain sih wajar… lha ini mas bakule juga ikutan bagaimana ini.  Tapi  ndak apalah, bapak-bapak ini umurnya sudah diatas 40 an sudah sangat bagus sampai di sini. Dan Sepertinya mas bakule memang sangat tersiksa dengan perutnya yang mirip orang hamil hahaha….Tapi perlu dicatat, bakule ini sudah menurunkan berat badanya sampai 6 Kg hanya dalam 1 bulan. Pencapaian yang luar biasa, cukup sebagai bukti untuk  membujuk teman –teman yang lain ikutan bersepeda.
Karena dari posisi puncak  tentu perjalanan sesudahnya didominasi turunan. Sangat nyaman sekali rasanya. Setelah dari awal perjalanan diwarnai dengan tanjakan akhirnya bisa sedikit istirahat. Air minum mulai menipis sambil jalan tengak tengok kanan kiri mencari warung belum ada yang buka. Ini dia kebiasaan masyarakat kita mentang-mentang warung sendiri buka seenaknya aja, pantes saja indomaret, alfamart lotte-mart dan rekan-rekannya betah nongkrongdi sekitar kita. Weiisss… nglantur. Setelah tanjakan yang cukup terjal akhirnya kita mulai melihat jalanan landai. Dari kejauhan juga sudah terlihat gapura kota mungkid dengan persawahan di kanan-kirinya. Beberapa tanaman buah seperti rambutan dan duren juga ada satu-dua. Disebelah kiri tampak puncak suroloyo titik tertinggi kulonprogo sekitar 900 meter dpl.

Seperti habis balik dari kamar mandi,  plong, lega, mulai lagi obrolan-obbrolan yang tadi sempet tidak tersampaikan akibat nafas yang terengah-engah tapi lupa apa yang diomongin mas bakule kayaknya sih masih seputar kisah tanpa bakat olah raganya. Teman-teman yang lain juga asyik ngobrol. mulai dari kuliner, apa yang akan dicicipi nanti ketika sudah sampai atau tentang perjalanan yang telah lalu. Dan lima menit berlalu tampaklah papan nama dengan background hijau

bertuliskan taman wisata candi Borobudur. Genjotan sepeda makin kencang wusssssss…. sampai juga akhirnya ke depan candi borobudur… dan narsisus narsisus pun mulai pasang gaya masing-masing. Sepeda ditata rapi biar kelliatan di foto, kan gawat kalau nanti dikira ke sana Cuma naik mobil. Satu-persatu mengeluarkan kamera hape masing-masing, lah kok samsung semua ??? saya pikir ini acara disponsori samsung hehe…

Berikutnya nyari spot lagi buat foto-foto, pengennya sih pada nampang di depan candinya langsung tapi karena males mbayar jadi diurungkan saja. Kalau saya sih mau gratis juga males , tahun

kemaren aja nyampe dua kali masuk. Kalau ndak salah inget untuk tiket dewasa Rp. 30.000 itu yang

domestik kalau untuk mancanegara Rp. 190.000,- . Oh ya mungkin saya ceritaken sedikit bagaimana keadaan borobudur sebagai obat penasaran. Di tahun 2012 ketika kesana, sekilas sih ndak ada yang berbeda dengan di gambar-gambar. Tapi seinget saya tempat sampah masih jarang di dalam candinya hehehe. Trus ketika awal 2014 juga masih tak jauh berbeda. Baru ketika september 2014 terasa ada yang beda, bukan candinya tapi beberapa hal kecil saja. Salah satunya adalah semua yang masuk ke candi diharuskan memakai semacam selendang bermotif batik dengan gambar candi borobudur. Ndak tau juga kenapa harus demikian wong saya nylonong saja ndak ikutan pake kok hehe, padahal ada beberapa turis yang dikejar karena tidak pakai. Cara pakenya juga khusus bahkan  tutorial lengkap cara pakainya. Kalau dari yang saya simpulkan dari beberapa candi, semua candi yang masih digunakan untuk ibadah kebanyakan emang diharuskan memakai semacam selendang ini. Ketika januari kemaren ke candi cetho juga semua di haruskan pake. Beda kalau di candi sukuh, candi sukuh ini memang sudah tidak digunakan untuk ibadah.

Bersama Mas Bakule yang mulai ngantuk 😀
Lanjut….
Pedal digenjot  ketemu juga ini satu spot untuk narsis, sebuah banner gueeedee yang ada tulisanya pintu masuk candi Borobudur
UNDER CONSTRUCTION, ndak tau juga apanya yang lagi dibongkar. Akhirnya pasang lagi pose-posean dengan sepeda. Setelah puas mulailah memikirkan satu lagi ritual pelengkanya, apalagi kalau bukan perkulineran. Hmmm… sayang di sana ndak ada makanan yang sangat khas. Ini nih hal kecil yang kadang terlupakan, mungkin bagi orang seperti saya makanan khas atau perkulineran itu tidak terlalu penting. Tapi kan orang seperti saya itu hanya minoritas saja ehehehe… Terkadang orang itu mengingat sesuatu dengan lidah. Sepertinya perlu diusulin ke pengelola sana biar dibikib makanan khas. Kalo saya liat di dalam itu masih banyak didominasi souvenir, makanan di sana kebanyakan makanan yang ndak ada khasnya sama sekali bakso dan kawanannya. Weslah… ndak baik orang yang ndak tau makanan seperti saya ngomongin makanan :P.
Kata sepakat dicapai…  semua setuju untuk mencari makanan di tempat tujuan berikutnya, candi Mendut. Dengan ritme genjotan sepeda yang makin fals dan perut yang keroncongan kami menuju ke sana, berharap menemukan gorengan atau apa saja yang bisa dimakan. Mendut… mengingatkan dengan makanan tradisional dari tepung ketan yang diisi dengan parutan kelapa dengan saus gula merah pas ditambah dengan teh anget , bayangan itu yang muncul selama perjalanan kalo mas bakule sih nyidam gorengan. Tapi apa yang terjadi … ah sama di borobudur ndak ada bayangan-bayangan makanan tadi yang mewujud, mungki emang bener kata pepatah “semakin banyak berharap maka makin besar peluang akan kecewa” mau masuk candi juga males. Ketika banjir lahar dulu saya sudah puas mengelilingi candi mendut ini.   Sepertinya saya punya fotonya…ternyata tinggal satu doang..
 (tampilan dalam candi mendut)
Genjot lagiii… masih dengan angan-angan dalam perut keroncongan. Setelah beberapa lama nggenjotnya akhirnya ditemukan sebuah titik pengisian perut sebelum jembatan srowol. Meski ndak begitu istimewa tak apalah buat isi perut. Oh ya… jembatan srowol ini jembatan gantung sebagai pengganti jembatan yang dulu ambrol pas lahar dingin merapi menerjang. Emang dahsyat terjangan lahar dingin ketika itu. Bahkan kali code juga tak lepas daari dampaknya. Masih ada sekarang di youtube.com video detik-detik ambrolnya jembatan ini. Silahkan kalau belum pernah liat bisa ke youtube.
Makan…makan… nasi sayur plus telur,….juooossss…. tanpa basa-basi langsung lahap. Janjane pengen iwak kali seng nang wajan neng kok gede-gede yo hehe… weslah nasi telur saja, ikan mengandung resiko tertusuk duri ehehehe… sekali lagi terima kasih buat bapak yang mentraktir semua makanan kami :P, tolong jangan kapok ya 🙂 … dan ternyata gorengan yang sangat diidamkan tadi juga baru turun dari wajan sedikit terlambat yang akhirnya disedekahkan kepada ibu yang punya warung.
(Jembatan Srowol)
setelah makan dan istirahat sebentar perjalanan dilanjutkan. Dimulai dari jembatan srowol, jembatan gantung yang bagi teman saya yang mengidap tremor(sekarang ada di kalimantan)  cukup mendebarkan ketika melawatinya karena seperti mau ambrol jembatanya. Biasa kalau perjalanan pulang seperti ini mau naik gunung atau bersepeda atau perjalanan yang lain meski ada 11 orang juga rasanya sepi. Minim obrolan dan canda tawa (kecapean kali ya…) Kita sengaja memilih rute yang berbeda dengan ketika berangkat. Melewati jalur ke arah muntilan/kulonprogo kemudian kemudian kita belok kiri menuju ke arah kecamatan ngluwar. Ngluwar ini kecamatan paling selatan dari kabupaten magelang. sengaja kita melewati jalan alteratif dan gang-gang di dalam desa yang lebih sejuk dan nyaman.  Tiga puluh menit kita sampai juga di pasar Ngluwar. Kemudian melewati pasar yang cukup ramai untuk kecamatan kecil seperti ngluwar. Sehabis itu Suasana tampak biasa hanya ada pemandangan orang antri di kantor pos yang entah mengantri apa, mau ngambil duit mungkin.

skip>>>>>>>>>>>>>>>

Banyurejo… salah satu kelurahan dari kecamatan tempel. Dan berarti disinilah saya harus berpisah dengan teman-teman yang dari seyegan. Saya mengambil arah kanan menuju minggir. Dan dari sinilah perjalanan kesendirian dimulai #:-S .. panas.. sepi … beeehhhh… tapi tak apa air di atas  kanal bikinan belanda (bok renteng) cukup memberi sejuk mata yang minusnya makin gede ini, pelan-pelan nanti juga nyampe rumah… weslah kesel le ngetik… kapan-kapan diteruske meneh. Moga-moga sukses buat mas bakule yang tengah berjuang menurunkan berat badan. Aja terus bosen.—

3 thoughts on “Bersepeda Dari Ancol Sampai Borobudur

  • April 15, 2015 at 12:02 pm
    Permalink

    maturs suwun mas bontitan, menginspirasi… kayaknya kata ini lagi ngetren. sebentar lagi pasti menggeser batu akik 😀

    Reply
  • April 29, 2015 at 5:57 pm
    Permalink

    Wuoh wangun!!! Kondyang tenan nganti detail ne resume. Cen bener, marai kepingin pit-pitan neh 😀 Lanjuuutttt!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + eighteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.