Jangan Jadi Petani ! Tidak ada petani yang sukses

Jangan Jadi Petani ! Tidak ada petani yang sukses

Kalaulah kaki saya bisa ngomong, tentu dia akan sangat berterima kasih. Ya… bisa merasakan lembutnya tanah dengan airnya yang sejuk. 40 hari sudah ketika kaki ini saya bawa ke UGD sebuah Rumah sakit untuk minta anti tetanus. Saya masih ingat bagaimana ekspresi dokter dan perawat tentang sebab luka yang saya alami. “kena cangkul” kataku waktu itu. mungkin dokter dan perawat itu heran bagaimana bisa saya kena cangkul. Bukan ekspresi yang asing sebenernya. Semua orang juga nampak tidak percaya kalau saya bilang ‘saya mencangkul di sawah’. Itu wajar saja karena di tempat saya atau kebanyakan tempat yang ada persawahan jarang melihat yang namanya anak muda.

Tapi itulah kenyataannya, hampir setiap hari saya ke sawah meski hanya sekedar nengok saja. dan memang bisa dibilang di kanan-kiri sawah saya, sayalah yang terlihat paling muda :D. Sejauh saya mengingat, saya tidak pernah membayangkan untuk menggarap sawah. Ini juga sangat wajar sekali, mana ada jaman sekarang anak-anak yang bercita-cita jadi petani. Dan tentunya anak kecil secara otomatis tahu kalau petani itu sama sekali tidak keren. Dan bagi anak-anak yang sudah sedikit bisa mikir tahu kalau jarang melihat profil seorang petani yang kaya-raya. Tapi heran, tengkulak kaya raya tapi juga nggak ada yang kalau ditannya cita-citanya menjawab ingin jadi tengkulak…

Apa yang tidak pernah ditanyakan seorang anak laki-laki pada ayahnya..
Mungkin memang sudah waktunya bagi saya untuk nGgarap sawah. Ya itu yang saya pikirkan dulu ktika kakek saya menawarkan untuk mengurusi sawah. Entah cepat atau lambat tentu kita akan mewarisinya dan mau tidak mau kita harus mengurusnya. Di tempat saya ada beberapa cara mengelola sawah. Yang pertama adalah dengan terjun langsung ke sawah. Semua proses dari awal sampai jadi nasi dikerjakan sendiri. kedua Bagi hasil, yang punya sawah tinggal tidur saja semua yang ada disawah menjadi tanggungan total orang yang menggarapnya. Dan yang ketiga, diurusi sendiri dengan menggunakan jasa seorang buruh harian.

Dibanding teman-teman sebaya saya mungkin saya yang paling cepat mendapat giliran untuk memikirkan masalah sawah. Takdir berkehendak dengan mengambil ayah saya dua tahun yang lalu. Jantung Koroner – kata orang memang merupakan penyebab kematian paling tinggi. Ayah saya masih meninggalkan padi yang tinggal menunggu untuk dipanen ketika itu. saya masih ingat bagaimana padat dan berisinya padi yang ditanam ayah saya itu.

Musim tanam datang dengan cepat dan ketika itu pekerjaan sawah kita kerjakan dengan menggunakan buruh harian. Hanya sekali dua kali saja saya pergi ke sawah untuk menabur pupuk. dan lama tidak ke sawah ibu saya sudah heboh… ada tetangga yang kasih info kalau tanaman padi kami dibabat habis oleh penguasa sawah… ya “TIKUS”. Enaknya hidup di kampung ya seperti ini, ada apa-apa kita dikasih tahu. Cuman ya itu kadang caranya yang saya tidak suka. Nadanya yang seperti orang jengkel…atau mungkin marah,.. lha ini sawahnya sapa to ?? kok malah mereka yang jengkel.. ! Dan tak hanya sampai disitu, ibu-ibu tetangga bahkan ada yang bilang pada Ibu saya “mbok digarapke wae nek mung pangan tikus ngene” (biar diurusi orang saja kalau Cuma dimakan tikus .- ) Nah ini yang kadang orang itu aneh, eman tikus milih-milih siapa yang ngurusin sawah kalau mau makan ?

Panen berlalu dan … kakek saya kemudian kembali menawari untuk ngurusin sawah. Saya dengan datar hanya bilang “Ya”. Setelah panen selesai dan ujian semester beres saya baru bisa untuk fokus menanggapi keinginan kakek saya itu. Ketika saya ke sawah ada sebuah rasa yang timbul, rasa penasaran yang mungkin hanya bisa saya obati di sawah itu. Ya.. sebuah pertanyaan seorang anak kepada ayahnya.

Saya tidak begitu tahu apakah orang lain juga merasakan hal yang sama dengan saya. Ada keinginan untuk mengenal seperti ayah saya dari sudut pandang yang berbeda. sawah adalah tempat terakhir beliau menghabiskan waktu. Orang-orang yang ada di sawah adalah orang-orang yang kerap berinteraksi dengan beliau. Karena itu, awal-awal saya ke sawah saya banyak menghabiskan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan mereka yang sehari penuh berteman dengan matahari.

“Ngabekti Karo Ibu Pertiwi”
Di tempat saya orang baru sibuk ke sawah ketika traktor sudah turun ke sawah mereka. Teknisnya, traktor akan mengolah tanah dua kali. Yang pertama hanya sekedar agar bekas-bekas padi yang lama cepat busuk dan tanah mendapat sirkulasi udara. Atau di sisi lain adalah itu cara operator traktor menandai wilayahnya… hehe… baru setelah itu para petani mulai untuk menyiapkan benih padi. Ini yang sering menjengkelkan. Petani di tempat saya sering saling tunggu dalam memulai untuk menebar benih. Waktu tanam tidak pernah serentak. Bahkan ada yang benihnya baru berumur seminggu ketika yang lain sudah mulai tanam. Inilah mungkin yang mambuat hama senang.

Dalam teori pengendalian hama, terutama tikus, tanam secara serentak merupakan salah satu faktor penting untuk menanggulangi serangan tikus. Logikanya adalah, ketika petani itu bergantian dalam menanam maka tikus hanya akan berpindah dari satu petak ke petak yang lain. ketersediaan pangan tikus terjamin sehingga menteri tikus tidak perlu susah-susah nyari lahan baru apalagi harus import. Dan tentu tikus akan terus beregenerasi berkat gizinya terpenuhi. Lain halnya jika petani bisa tanam secara serentak. Tikus tidak hanya menyerang titik tertentu sehingga resiko petani berkurang dan yang penting adalah ketika panen selesai tikus akan defisit pangan yang akhirnya tidak mampu untuk beranak pinak.

Karena itu, saya juga hanya datang ke sawah sebentar sekedar untuk mencari informasi apakah orang-orang sudah mulai menyiapkan benih. Dan waktu banyak saya gunakan untuk jagongan (duduk-duduk) dengan simbah saya. Secara riil umur simbah saya sekarang sudah 90 tahun meski di KTP baru 85. Ya cerita simbah saya dulu semua datanya hasil karangan orang yang ngurus KTP. Di KTP ditulis lahir tahun 1934, padahal simbah saya masih ingat kalau tahun 1936 beliau sudah pergi ke Wonosobo. Hal yang wajar ketika itu masalah data seperti ini dimanipulasi, ya … kata simbah sih kalau misalnya dulu ditulis sesuai kenyataan lumayan sekarang bisa dapet duit lebih..

Simbah saya sangat seneng cerita. Segala sesuatu bisa dia bawa kedalam masa lalunya, ya… singkatknya beliau sering mengomentari keadaan orang sekarang dengan masa mudanya dulu dan kemudian menceritakan kisah-kisah masa kecilnya… bagaimana keadaan persawahan ketika itu atau tentang sistem kepemilikan tanahnya. Yang menarik adalah beliau kerap membandingkan pemerintahan kala itu dalam mengatur pertanian semisal tentang irigasi dan perawatannya. Ya.. pemerintahannya kala itu Belanda kan ya… jelaslah.. wong dulu tanemnya tebu untuk dieksport ke eropah sana. kalau dalam pelajaran dulu dibilang Belanda Njajahnya nyampe 2 abad lebih… lha ini kenapa kalau simbah cerita kok kayak orang yang adem ayem saja. Tapi poinnya adalah, dulu pertanian sangat diperhatikan dengan serius bahkan hingga jaman-jaman anak milenial lahir.

Bercerita mungkin bisa meningkatkan daya ingat, atau kalau dalam usia simbah saya mempertahankan daya ingat. Karena otak akan terus digunakan untuk bekerja mengakses file-file yang jauh terpendam di otak. Dan disetiap ceritanya terkadang terselip motivasi-motivas yang kadang dalam bentuk pepatah atau falsafah.. dan yang sering beliau kutip adalah “Ngabekti karo Ibu Pertiwi” (berbakti pada Ibu pertiwi). Mengolah sawah adalah salah satu bentuk dari penafsiran “Ngabekti karo Ibu Pertiwi” yang dilakukan oleh petani. Membiarkan tanah terbengkalai sama saja tidak mensyukuri nikmat yang diberikan.

Dalam Agama saya sendiri diajarkan bahwa bercocok tanam merupakan sebuah pekerjaan yang mulia. Dengan bercocok tanam banyak manfaat yang diberikan kepada sesama makhluk. Bisa dikatakan mempunyai nilai sedekah. Katakannlah ketika kita menanam padi. Ada ekosistem yang ada pada sawah yang kita kelola. Mulai dari cacing tanah, belut, belalang hingga burung.

Sekolah gratis dengan segudang guru
Dan mulailah pekerjaan sesungguhnya dimulai, Proses pertama adalah merendam padi yang akan ditebar menjadi benih. Proses ini bisa dilakukan di rumah dan biasanya ini dilakukan oleh Ibu saya. Tugas saya adalah menyiapkan tempat untuk menebar benih itu. Dalam membuat tempat menebar benih ini orang-orang biasanya melakukan dengan cara manual menggunakan cangkul. inilah saat saya pertama kali memegang cangkul di sawah. Meski secara garis besar sudah diberi teori dari simbah, tapi yang beginian nggak akan jelas kalau nggak langsung dipraktekin.

Dengan bermodal PD (nekat) saya pergi ke sawah membawa cangkul. Dan ternyata memang mencangkul itu bukan kerjaan yang mudah. Setelah membolak-balik tanah telapak tangan rasanya seperti disayat-sayat pisau. Sesekali saya berhenti agar rasa panas di tangan sedikit reda. Ini baru saya tahu kenapa orang-orang selalu menunggu tukang traktor merambah sawahnya. Tentu kalau sudah dibalik traktor mereka tinggal menghaluskan saja.

Proses selanjutnya saya kira akan lebih mudah, tinggal menghaluskan tanahnya. Ya… kata “tinggal” itu tidak seringan ketika pegang cangkul. tanah yang masih dalam bongkahan itu kita cincang menggunakan cangkul. justru ini kerasa banget di bahu karena menahan ayunan cangkul kita. Saat seperti ini terkadang ada orang yang mampir untuk sekedar menyapa. Nah ada beberapa orang yang kadang memberikan beberapa tips. Bahkan ada tiga orang yang masih saya ingat sempat memberikan tipsnya kepada saya waktu itu. Menyenangkan sekali, setidaknya saya tidak perlu khawatir masalah teknis. Ada banyak orang yang dengan sukarela dan tanpa diminta memberikan arahan pada saya.

Dari seluruh proses pra tanam hingga panen setidaknya sudah beberapa yang saya tahu. Setidaknya ada beberapa proses yang dulu ketika bapak saya masih hidup beliau selalu meminta bantuan di sawah. Yang pertama adalah nDaut,.. itu istilah ditempat saya untuk menabuti benih yang akan ditanam. Yang kedua adalah menyiangi sawah setelah beberapa waktu di tanam. Kedua pekerjaan ini memang yang paling membutuhkan tenaganya orang banyak.

Sebelum tanam, galengan (pematang sawah) harus di tutup dulu dengan tanah yang baru. Di tempat saya namanya ‘nembok-i’ asal katanya tembok dapet akhiran ‘I’ hehehe.. atau bisa diartikan dengan membuat tembok. Tujuannya adalah untuk menutup rumput dan juga menutup lubang-lubang agar air tidak bocor. Proses ini yang seumur hidup belum pernah saya lakukan. Bahkan mereka yang sudah beberapa kali ke sawah saja ada yang tidak bisa… untuk teknologi yang mutakhir yang lebih kekinian proses ini bisa diganti dengan menyemprotkan herbisida pra tumbuh. Tapi saya lebih memilih melakukan cara konvensional ( kalau tidak kepepet) ya… itung-itung ngurangin obat-obatan lah…

Tentu dengan cara yang konvensional ini akan memakan waktu yang lebih banyak dan tenaganya juga ekstra. Tapi itu tidak masalah, kata orang-orang “kerjaan di sawah itu cukup dilakukan sedikit-demi sedikit” asalkan rutin. Dan karena saya bener-bener buta dengan ini saya sampai nyontek sama tetangga. Saya amati sawah di kanan-kiri, bagaimana cara mereka ‘nemboki’ pematang sawah mereka. Enak sekali melihat mereka memainkan cangkulnya… sret.. sret.. plek.. jadi. Terlihat menyenangkan saya langsung praktek.. slep..slep … crottt… hahaha.. ternyata jauh sekali dari terlihat… meski lama-lama setelah dapat beberapa meter mulai menemukan nada yang pas, nanti juga sampai ujung pikir saya. Nggak panjang kok ..Cuma 112 meter hahaha… dan masih ada lagi di tempat lain

Saat-saat seperti itulah kadang ada orang yang datang ngasih tips. Rasanya saya ini seperti seorang murid sekolah yang tengah praktek. Didatengin guru trus diarah-arahin.. ya namanya juga guru, metodenya macem-macem. kadang ada yang tiba-tiba dateng trus bilang “jangan begitu !!… ini seharusnya seperti ini !!! “ (dengan nada yang tinggi).. ya.. tapi saya pernah dapat nasehat, orang menuntut ilmu itu harus sabar ! … cukup senyum saja dan mendengar apa yang disampaikan. Saya sangat yakin niat mereka tulus. Hanya memang terkadang pembawaan orang itu yang beda-beda.

Pada proses tanam itu saya memang harus banyak belajar tentang hal-hal yang sifatnya teknis. Dan hal-hal seperti ini nggak bakalan nemu sekolahnya di mana, bahkan tidak ada matakuliah dengan nama teknik mencangkul di jurusan pertanian sekalipun. Dan di sawah semua ilmunya gratis, Gurunya banyak dan langsung praktek 3 sks penuh hahahahaha…

Sekitar 14-16 hari umur benih dari disemaikan, saat itulah traktor datang untuk kedua kalinya untuk menghaluskan sawah. Tukang traktor akan kembali mengerjakan sawah-sawah yang sudah dirambah pada masa sebelum benih disemai, istilah kerennya ini adalah finishing. Ketika proses ini selesai nanti sawah sudah siap untuk ditanami padi. Ada dua jenis traktor yang ada di tempat saya. Yang pertama adalah model lama dengan alat pembalik berupa bajak konvensional. Yang kedua adalah rotary blade. Model yang kedua ini lebih banyak diminati orang-orang. Alasanya adalah karena kelembutan yang dihasilkannya. Untuk harga jasanya sih sama saja, untuk per-bagian sawah dipatok harga 300.000. ‘bagian’ adalah ukuran yang dipakai orang-orang di tempat saya setelah lengsernya kekuasaan sewa tanah Belanda. 1 bagian kurang lebih setara dengan 2500 meter persegi.

Setelah sawah selesai ditraktor, hal biasa yang dilakukan oleh orang ditempat saya adalah membersihkan sisa-sisa rumput atau batang padi. Pekerjaan seperti ini dibilang berat ya tidak tapi cukup menyita waktu. saya kadang heran dengan bagaimana orang-orang bisa betah jongkok sebegitu lamanya. Mungkin ini bedanya orang cetakan jaman dulu sama jaman milenial… mungkin kapan-kapan saya tantangin aja mereka mantengin layar seharian hahaha… tapi biar bagaimana ya harus dilakukan, cuman bedanya saya bikin alat untuk ngebersihin sisa-sisa rumput itu. saya bikin semacam penggaruk dari paku yang saya tancapkan pada papan. Hasilnya lumayan meski tidak sebersih yang manual pakae tanah…. Ya.. biasa ada juga yang komentar, kurang bersih lah, nanti rumputnya tumbuh suburlah.. atau yang semacamnya. ah peduli amat, emangnya siapa yang mau muter-muter sambil jongkok seluas 1200 meter lebih ? itu baru satu petak .. lha ini dua petak bro…

Nggak efektif juga kalau harus ngehabisin waktu lama-lama untuk kerjaan di atas. masih ada satu lagi untuk sentuhan terakhirnya… ya… tanah di sawah itu harus dibikin rata. Dibikin rata ya.. bukan dibikin halus ! terkadang selesai ditraktor itu permukaan tanahnya tidak rata, terlebih ketika ditraktor menggunakan traktor yang model lama model dari bajak kebo jaman dulu itu. dan kenapa harus rata ? alasanya karena ketika permukaan tanah tidak rata distribusi air juga tidak rata. Tentu dampaknya adalah pada pertumbuhan padinya. Ini sangat terasa pada saat musim kemarau. Dengan debit air yang tidak terlalu banyak akan ada spot-spot yang terlalu tinggi tidak mendapat cukup air. layaknya orang kurang makan, ya kurus-kurus batang padinya dan anakannya tidak banyak.

Harinya kaum hawa …
Tibalah saatnya menamam, tandur merupakan istilah yang sudah entah dari kapan dipakai. tandur ditata (ditoto) karo mundur. Dalam bahasa Jawa tandur sendiri dimaknai dengan menanam, tapi bisa juga jadi semacam akronim dari – ditata karo mundur- mengandung pengertian bahwa orang menanam padi itu jalannya ke belakang (mundur). Saya belum sempat mengupas falsafah tandur ini lebih dalam dari simbah saya, kenapa simbah lagi… ya karena memang beliau orang yang paling dekat untuk dikorek keterangannya. Di mana orang maju terkadang tidak harus berjalan ke-depan. Tapi ya logikanya, kalau jalannya maju sama saja bohong. Pada yang sudah ditanam diinjek-injek lagi.

Sebelum tandur tentu benihnya harus disiapkan terlebih dahulu. Ini pekerjaan yang nampaknya sederhana namun cukup membosankan dan bikin semua badan sakit. ‘ndaut’ istilah yang digunakan untuk mencabuti benih yang akan ditanam. Inilah satu-satunya pekerjaan yang sudah sering saya lakukan dari mulai masuk SMP. Biasanya almarhum bapak saya sering meminta bantuan saya dan kakak saya untuk ‘ndaut’ ini. Ya… saat ini juga saya tidak kuat kalau mengerjakan ini sendirian. Baru dapat beberapa meter saja jempol saya sudah lecet-lecet terkena sayatan benih padi, untuk antisipasi biasanya saya sudah tempel plester di tempat-tempat yang mungkin bisa lecet, meski nanti lecetnya di tempat lain.

Ketika itu kakak saya masih tinggal sedikit jauh dari rumah, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan menerobos padatnya jalanan Jogja. Karena itu biasanya saya mengambil waktu untuk tandur di hari setelah hari libur biar kakak saya bisa ikut bantu ‘ndaut’ itu tadi. Untuk yang satu ini kakak saya sangat pinter, saya tinggal minum saja kadang sudah selesai, meski kadang ada beberapa batang yang tidak tercabut dengan sempurna haha…

Untuk tim yang tandur atau menanam padi ini jaman dulu dilakukan oleh kaum kartini. Saya tidak tahu kenapa, tapi sejauh saya bisa mengingat … tidak pernah melihat yang namanya laki-laki berbaris untuk menanam padi. Karena dikerjakan Ibu-ibu biasanya Ibu saya yang ngurusin. Siapa yang mau diminta untuk tandur dan sebagainya.

Sama seperti pekerjaan wong lanang, tandur ini sudah tidak bisa dijadikan sebagai pokok penghasilan. Untuk ongkos ‘tandur’ itu menyesuaikan dengan ongkos traktor. Kalau ongkos traktor satu bagian (2500 m persegi) 300 ribu maka untuk ongkos tandurnya juga sama. Satu petak kadang dikerjakan 4 sampai 6 orang, meski saya mungkin lebih senang kalau hanya dikerjakan sedikit orang. Saya suka kurang tega melihatnya, duit yang 300 ribu itu dibagi 6 orang. Itu harus menancapkan ribuan benih padi. 2500 meter itu luas dab… dikerjakan 6 orang itu dari jam 8 pagi bisa selesai jam 4. Namun di satu sisi sebagai yang punya sawah. Duit 300 ribu itu sudah sangat besar, bayangkan saja kalau untuk ongkos traktor kita keluar 300, tandur juga 300 sudah 600 ribu. Dan sampai nanti panen hampir 2 juta sendiri biaya dari pupuk, obat dan lainnya.

Di jaman tradisional dulu ketika jiwa gotong royong belum tergerus, tandur itu juga bentuk gotong royong. orang tandur hanya mendapat makan saja dari yang menggarap sawah. Tapi nanti ketika sudah panen, orang-orang yang tandur ini juga yang akan memanennya. Kemudian hasil panen dibagi sekaligus sebagai upahnya. Jadi lebih baik mana ? yang sekarang atau yang dulu. Kalau sekarang tandurnya diberi upah nanti panen dibagi hasil panennya. Cuman ya itu sekarang tidak ada ikatan, siapa yang tandur mereka juga yang memetik. Memang lebih liberal mungkin… tapi ketika musim panen para ibu ini juga bisa memetik padi di sawah siapa saja, bahkan jangan heran.. ada yang hasil dari memetik padi ketika dikumpulkan bahkan melebihi hasil panen dari mereka-mereka yang punya sawah sendiri.

Saat tandur inilah mungkin disawah itu suasananya sedikit berbeda, sawah terlihat begitu ramai. ya jelas… tau sendiri bagaimana kalau ibu-ibu sudah berkumpul. Tapi itu juga mungkin yang bikin panas dan lelah hilang terbiaskan dengan candaan-candaan mereka.

Sebelum mereka mulai menanam komandan regunya bertanya, “arep diwenehi legowo piro?”.. mau dikasih berapa legowo ? katanya. Ya sebagai anak yang baru saja nyemplung sawah tentu nggak tau maksud dari ucapannya itu. sebelum saya jawab beliau meneruskan, seperti biasanya saja ya… yo wes lah ok .. ternyata.. setelah ditancap beberapa benih baru saya tahu. Legowo itu seperti spasi, ya… jadi setiap beberapa kolom tanam. Istilah ini diambil dari bahasa Jawa.. lego artinya luas dan dowo yang artinya panjang. Sistem jajar Legowo adalah cara tanam padi di mana padi ditanam dalam beberapa barisan dengan diselingi satu barisan kosong. Dan saya kemudian ingat tanaman bapak saya yang terakhir juga menggunakan metode ini.

Clep…clep…clep… satu persatu benih-benih padi ditancapkan. Baru beberapa menit saja beberapa meter sudah terisi dengan benih, lurus, rapi bahkan dilihat dari sisi manapun. Terlihat mudah seperti semua pekerjaan yang ada di sawah.. tapi ketika dicoba wooh masyaalloh.. sama sekali jauh dari bayangan. Ibu-ibu itu harus melakukan hal ini hingga semua petak terisi penuh. Ribuan benih ditancap satu-persatu, tidak ada opsi “copy—paste”, “duplicate” atau “cloning”, semua manual.

Kebanyakan pemilik sawah atau penggarap tidak berada di sawah pada saat tandur ini. semua kebutuhan sudah dicukupi dari sarapan, hingga makan siang. Kalau saya… biasanya saya nyiapin bekas penyemaian benih biar sekalian bisa ditanemin, soalnya daripada besoknya harus pegel-pege nancepin benih sendiri itu juga hasilnya berantakan.

bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.