Ketika Andong Telomoyo Berselimut Kabut

Ketika Andong Telomoyo Berselimut Kabut
Gunung Andong, Gunung dengan ketinggian 1726 MDPL. Karena rasa penasaran, saya akhirnya merencanakan untuk jalan-jalan ke gunung ini. Sejak sekitar 2012 lalu Gunung ini begitu ramai didaki, itu seiring trend yang mana banyak gunung dengan puncak kurang dari 2000 Mdpl menjadi penuh sesak.
Teringat masa-masa awal mengenal gunung dulu, saya membuat beberapa list Gunung-gunung untuk didaki. Di Jawa Tengah sendiri hanya ada satu Gunung di Bawah 3000 Mdpl yang masuk dalam list, Merapi. Hampir tidak ada yang membicarakan Gunung semacam Prau- Dieng, Andong, Telomoyo, mungkin hanya ungaran yang kala itu memang sudah ramai. Tentu ini menjadi sebuah hal yang menarik, apa yang menyebabkan Gunung-gunung ini menjadi begitu ramai.
Facebook & Instagram, dua sosial media inilah yang penyumbang paling banyak promosi Gunung-gunung kecil ini hingga menjadi terkenal. Andong sendiri pertama saya lihat disebuah website tentang wisata Gunung. Begitu hijau ketika itu dengan langit biru, mungkin itulah ketika andong punya keindahan yang maksimal. Tak disangka, Gunung yang dulu hanya sebagai pemanis dari puncak Kentheng Songo itu punya view yang lumayan cantik. Tapi karena beberapa agenda yang sedikit padet akhirnya belum sempet untuk jalan-jalan ke sana.
Ok, Minggu pagi menjadi hari untuk menjajal seperti apa Gunung Andong. Pagi sekitar jam 8 berangkat dari rumah, satu setengah jam kemudian sampailah di Ngablak. Sedikit teringat jaman SMA dulu saya pernah turun dari merbabu melalui jalur Ngablak yang ternyata justru lebih jauh kalo menuju ke Magelang. Dari sini ternyata sudah ada petunjuk menuju basecamp Gunung Andong, nama Desanya Sawit. Setelah melalui ladang yang lumayan luas itu akhrinya sampai di pintu masuk desa sawit ini. Di sini saya mendapat informasi kalau Gunung ini tidak pernah sepi selama 24 Jam, luar biasa…!!
Lanjut ke pos registrasi, sebelum memulai perjalanan saya harus beli tiket sebesar 8.000 sudah dengan parkir motor. Luar biasa… ramai sekali pagi itu, kebanyakan adalah mereka yang sudah turun dari Gunung dengan Carrier besar dipunggung. Ada juga yang hanya membawa barang sekedarnya. Ada juga yang bawa tikar, .. mungkin ada juga yang bawa kompor dengan tabung 3 kg hehe. Makin menarik saja ini Gunung. Tapi juga ada beberapa pendaki senior yang sering terlihat di Gunung-gunung di Jawa Tengah ini.
Karena masih banyak agenda saya segera saja berangkat. Beban dipunggung cukup ringan hanya kamera dan tripod dengan dua botol air mineral 500 ml. Di pos pemeriksaan tiket saya cari informasi lagi, tentang waktu dan jalur. Dikatakan oleh bapak ORKAMSI (orang kampung situ … hehe ) kalau dia jalan santai ke puncak hanya 1 jam saja. Hmm.. berarti kalau saya bisa 1 – 1,5 jam pikirku. Dari sini  cukup terlihat jelas lereng gunung dan jalur yang akan dilalui, tentu saja karena kontras warna coklat diantara hijau. Sudah terbayang saja seperti apa debu yang akan menyambut di perjalanan nantinya.
Kira-kira 5 menit dilalui adalah ladang penduduk, dan mulai nampak tanjakan awal menuju puncak andong. Dan benar saja jalan yang dilalui penuh dengan debu ditambah dengan langkah mereka yang siang itu turun semakin tinggi debu-debu itu terbang. Sedikit saya percepat langkah, didepan terlihat Pos 1 dengan sebuah gubuk dengan atap ijuk dan terdapat bale-bale rasanya nyaman sekali untuk duduk-duduk. saya putuskan untuk terus saja berjalan.
Dari Pos 1 ini vegetasi didominasi dengan pohon pinus. Didepan ada satu kelompok yang menuju ke puncak juga. Tak selang beberapa lama berjalan sampailah ditempat yang saya pikir adalah Watu Gambir seperti yang tertulis di Peta yang diberikan ketika registrasi. Di sini adalah batas dimana berubah menjadi jalanan dengan batu yang tertata, sedikit mengingatkan dengan jalur pendakian Lawu lewat Cemoro Sewu.
Masih juga papasan dengan pendaki yang turun, “semangat mas… bentar lagi puncak.. kalau sampai puncak nikmatin sampe puas kabutnya”… dengan singkat kujawab “makasih… :D” emang apa yang salah dengan kabut, kabut itu juga sebuah keindahan tersendiri. Lagian dari bawah juga udah keliatan kalo puncaknya hanya ada kabut hehe… lanjut lagi, sampai juga di sebuah mata air dengan keran yang cukup bagus. Tidak berlama-lama setelah atur nafas saya lanjutkan perjalanan. Satu tikungan saja sampailah di Pos 2. Karena habis istirahat terus saja lagian aroma puncak sudah tercium, masih juga ada beberapa orang yang turun. Beberapa orang menyapa, ada yang memberi semangat juga. “semangat mas,… bentar lagi puncak !… ini jalurnya enak kok dari pada yang lewat gugik” , setelah berterima kasih saya lanjut lagi berjalan sambil tersenyum sendiri. Bener-bener udah kayak mau muncak ke Mahameru aja ini hehe…
Dan… akhirnya puncak terlihat juga… dan di percabangan saya harus memilih untuk mengambil jalan. Kiri puncak makam dan kanan Puncak Andong.. yap saya putuskan untuk langsung ke Puncak Andong. 45 Menit sudah ternyata saya berjalan sampai di puncak ini, kok cepet banget hehe… ini mungkin karena semangat-semangat yang diberikan teman-teman yang berpapasan tadi. dan luar biasa pemandangan di Puncak Andong, warna putih mendominasi. Sebuah sensasi tersendiri ketika sejauh mata memandang yang ada hanya warna putih… hmmm…  .
Setelah atur nafas sebentar, saya siapkan tripod didepan Papan “Andong Peak” saya setting mode video,  yah… buat kenang-kenangan aja saya biarkan saja apa yang ada. Biar kameranya merekam sendiri orang-orang yang lalu-lalang di puncak Andong. Tentu gagahnya merbabu tidak terlihat, pandangan tertuju pada pembangunan sebuah bangunan di puncak makam. Kata teman saya pas di gunung prau beberapa waktu lalu, di puncak makam itu akan dibangun semacam petilasan untuk leluhur masyarakat setempat.
Oh ya di puncak kita bisa beli makanan lho, ada Pop Mie, Nasi dan juga berbagai makanan ringan. Es jeruk juga ada. Setelah puas dengan puncak saya memutuskan untuk segera turun. Sambil turun iseng-iseng aja jepret-jepret langit putih disiang hari itu. Beberapa pendaki yang tengah istirahat menjadi korban jepretan saya hehe…  perjalanan hari itu belum berakhir, ada beberapa pilihan yang ingin saya kunjungi, akhirnya pilihan jatuh pada tetangga Gunung Andong. Yap … Telomoyo.

perkampungan sawit terlihat samar-samar
ketemu di jalan 😀
Gunung Telomoyo terletak disebelah Utara Gunung Andong. Menurut informasi yang saya terima, Gunung ini bisa dipuncaki dengan mengendarai motor. Setelah Sholat Dzuhur saya langsung tancap gas ke Sana. Hanya sekitar 5 menit sudah sampai di pos Retribusi Gunung Telomoyo, untuk tiketnya hanyaRp, 5.000. Di awal perjalanan saya menyusuri jalanan beraspal dengan sedikit bolong-bolong. Beberapa kali juga berpapasan dengan petani yang mencari makan ternak mereka. Di titik-titik tertentu juga ada beberapa orang yang tengah memadu kasih, sepertinya memang gunung ini cukup menjadi favorit anak muda yang pacaran xixixi… Mata saya langsung siaga begitu ada motor dipinggir jalan tapi tidak ada yang punya, pasti orangnya lagi nyari spot tersembunyi hahaha…
Semakin ke atas jalanan semakin tidak karuan mirip dengan sungai kering, nanjaknya sih nggak seberapa cuman lobangnya itu yang bikin harus hati-hati. Jalan yang berkelok zig-zag juga mengharuskan membunyikan klakson agar jika ada pengendara dari arah berlawanan bisa waspada.
Pemandangan sepanjang jalan cukup indah, tentu tanpa kabut akan lebih indah lagi. Selepas setengah perjalanan aspal sedikit bersahabat. Di pinggir jalan masih dipenuhi pemandangan romeo dan juliet tengah asyik bercengkrama. Tanpa menghiraukan mereka saya lanjut saja menuju puncak. Tak lama saya melihat orang tengah membongkar tenda, ternyata ada juga orang yang ngecamp di sini. Mendekati puncak mata kita akan disuguhi pemandangan kota Salatiga dan Rawa Pening, sayang kabut membuat Rawa Pening hanya nampak samar-samar.
Sesampai di puncak pertama kali yang menarik perhatian adalah banyaknya antena Radio Pancar Ulang (RPU) yang dipergunakan untuk memperkuat sinyal HT dan juga satu Tower Telkom. Teryata memang Gunung Telomoyo ini difungsikan untuk kepentingan komunikasi. Ada satu petugas jaga yang bergantian bertugas di puncak ini. Para pengunjung juga lumayan ramai, memang kita tidak bisa secara bebas berkeliling kawasan puncak gunung ini karena beberapa area hanya khusus untuk petugas saja.  Dari bentuk Gunungnya, telomoyo sebenarnya cukup menarik untuk dijadikan tempat treking, mungkin lain kali bisa ke sini lagi dan mencoba untuk jalan kaki menelusuri jalanan setapak. Oh ya gunung telomoyo ini sedikit lebih tinggi daripada gunung andong, di altimeter nyampe di angka 1.900 Mdpl.
tower radio pancar ulang di puncak telomoyo
Keinginan untuk menikmati pemandangan yang cukup indah namun dengan perjalanan yang singkat, mungkin itulah salah satu sebab kenapa Gunung-gunung ini menjadi ramai disamping maraknya posting di facebook, instagram dan sosmed yang lain. Pesan saya sih ndak usah terlalu terburu-buru ketika ada orang posting tentang tempat baru yang indah. Kamera itu bisa menipu, ada sudut-sudut tertentu yang membuat foto sebuah tempat menjadi indah, ada waktu-waktu tertentu yang membuatnya semakin syahdu.

2 thoughts on “Ketika Andong Telomoyo Berselimut Kabut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.