Kisah yang terselip; Merbabu 17 Agustus 2015

Kisah yang terselip; Merbabu 17 Agustus 2015


Cerita ini mungkin cerita tentang dolan Gunung pertama semenjak pindah domain. Kenapa pindah domain ?… pengen tahu ke sini saja. Ini cerita sebenernya kisah lama dari tahun 2015. Entah kenapa bisa terselip saya sendiri lupa. Baru keinget untuk nulis ceritanya karena barusan saja nemu fotonya secara tidak sengaja di Google Photo.

Cerita dulu tentang foto,.. foto itu bagi saya semacam memori. Memori tentang apa yang ada disekitar saya. Jadi kalau di web ini hampir tidak ada foto saya ya jangan heran 😀 karena itulah cerita ini mungkin bisa keselip, karena foto tentang pendakian yang ini juga nyelip.

17 Agustus 2015, tepat hari peringatan kemerdekaan RI yang ke 70 kami sampai di puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu. Memang ketika itu kami berempat pengen ngrasain upacara 17-an di puncak Gunung Merbabu. ya.. orang seperti kami ini kalau tidak ditempat seperti itu tidak bakalan ikut upacara. Dan .. semua orang yang biasa naik bareng saya hubungi semua meski pada akhirnya hanya tiga orang saja yang ikut.

Jalur pendakian Selo

Menurut saya ini jalur yang paling bagus pemandangannya dari semua jalur ke puncak merbabu. meski saya sebernernya pada waktu sedikit bosan dengan jalur ini. kenapa ?karena tentu akan sangat ramai sekali. hari biasa saja jalur selo ini begitu padat. Ditambah musim kemarau yang mana bayangan debu-debu beterbangan akan menghiasi sepanjang jalur perjalanan. tapi karena yang pada ikut pengen liat yang namanya sabana merbabu ya mau bagaimana lagi.

Seperti jawaban yang pernah saya berikan kepada yang bertanya “apa tidak bosan lewat jalur yang itu terus ?” ya karena jalannya itu sebenernya selalu beda setiap saya ke sana. orang-orang disekitarnya beda… musimnya beda.. cuacanya juga tidak sama.

Siang 16 Agustus 2015 kami sudah sampai di basecamp selo sekitar jam 2. Basecamp sudah sangat ramai bahkan kami kebagian tempat parkir sangat jauh dari basecamp. Saya hanya berpikir untuk segera parkir dan segera memulai perjalanan. takutnya nanti di atas sudah tidak kebagian lapak yang nyaman.

Sampai basecamp .. kami lagsung pesan makan.. dan karena ramainya minta ampun… tentu pesen makanan di basecamp juga laris. Dan resikonya, setengah matang ! karena mungkin buru-buru jadi masak nasinya kurang sempurna. Tapi ini wajar dan saya rasakan di beberapa basecamp yang lain ketika ramai pengunjung. Tapi ya nggak masalah nanti juga empuk sendiri di perut :D. setelah selesai makan dan sholat kami langsung tancap gas untuk naik.

Jalan dari basecamp sampai pos satu lumayan sudah cukup ramai. terlihat jalanan yang baru saja dirapikan sama yang ngurusin. Herannya waktu itu hari minggu tapi tidak juga ada yang turun. Nampaknya semua memang mau naik pas 17 Agustus. Ya… kan jarang-jarang ngerasain upacara di gunung.

Pos 1 ke Pos 2…

Di pos satu kami hanya berhenti sebentar karena memang tenaganya masih full. Tidak ada sepuluh menit kami langsung beranjak meneruskan perjalanan ke Pos 2. Sebenernya ada jalan pintas untuk menghindari padatnya jalanan kala itu. jalurnya langsung tembus ke pos 3 tapi karena masih dalam batas wajar ya ikutin aja jalur normal karena kadang ramai itu yang bikin capeknya sedikit teralihkan.

Pos 3

Masih belum cukup gelap ketika kami sampai di pos 3. Merapi di seberang kelihatan, ya.. mulai dari pos 3 ini kalau lewat jalur jalur Selo indahnya bisa terasa. Dan yah… sepertinya kok mau target sampai di sabana 2 sebelum maghrib tidak bisa tercapai. Pos tiga waktu itu sudah sangat penuh sekali. tenda-tenda sudah berjajar rapi nempatin lapak-lapak streategis. Daripada ketularan nyaman, kami berangkat saja menuju sabana 1.

 

Keindahan itu ada harganya…

Sebanding dengan pemandangan yang bagus harganya adalah lutut ! jalan menuju ke sabana 1 itu mungkin trek yang paling tegak sepanjang jalur Selo. Dan mau musim apapun trek ini nggak ada nyaman-nyamannya. Musim hujan licin.. kalau musim kemarau tanahnnya… apa bahasanya.. kalau orang jawa bilang “mipril” jadi tanah itu tergerus menjadi debu ketika diinjek.

Mungkin sudah jam 5 sore ketika kami sampai di pertengahan jalur menuju sabana 1. Suhu mulai berangsur-angsur turun, ini harga keindahan juga… puncak keindahan di gunung tropis itu ada di bulan Agustus… awan akan menggumpal dibawah kaki kita dengan cuaca yang cerah. Tapi ya itu, puncaknya dingin juga ada di bulan ini. Ketika bulan Agustus suhu akan berada pada titik paling bawah. Jadi wajar saja kaki teman saya kram karena tidak tahan dengan dingin.

Sabana 1

Sebelum sampai di sabana 1 kami berhenti dulu untuk istirahat setelah merangkak di trek sebelumnya. Ujung barat sana sudah memerah di mana anak kecil aja tahu kalau hari sudah mulai malam 😀

Setelah beberapa kali ambil gambar kami melanjutkan perjalanan ke sabana 1. Dari kejauhan sudah terdengar riuhnya sabana 1 mungkin sudah ada beberapa kelompok yang ngecamp di sana. jam 6 lewat kami bener-bener sampai di sabana 1, bukan hanya tenda yang sudah berjejer di sana. Api unggun juga nampak berjejer. Sambil istirahat ya kita numpang aja deket-deket api karena memang suhunya sudah sangat dingin ditambah sabana 1 yang memang sangat terbuka seperti berada di tengah lalu-lintas angin.

Fakta kalau di gunung adalah, orang itu jadi rakus ! selain karena tenaga yang habis buat jalan juga karena nahan dingin butuh kalori yang besar. Tapi karena kalau masak nanggung ya roti saja sudah cukup, bagi orang jawa makan roti itu masih belum dinamakan “makan”.

Sabana 2

Meski tidak securam jalur sesudah pos 3, jalur sebelum sabana 2 itu juga lumayan curam. Beberapa kali kami berhenti untuk ambil nafas. Tapi ya ini repotnya, karena anginnya duiiingin sekali kelamaan berhenti juga tidak enak. Lalu bagaimana enaknya ? jalan saja pelan-pelan.. dan sabana 2 sudah didepan mata. Tenda-tenda juga sudah banyak yang berdiri. Dan sedikit lega karena tempat lapak langganan saya masih kosong. Langsung saja kami berhenti bongkar carrier dan pasang tenda. Tenda siap dan selanjutnya adalah bikin makan malam. Menunya apa ? ya.. saya sedikit lupa. Anggap aja seperti biasa. Nasi+telor+indomie..itu standar .. sudah pakai nasi masih indomie ? ya karena bumbu indomie itu yang bikin enak  ya maklum saya tidak pintar masak dan sayangnya temen saya yang seneng masak sudah malas buat naik gunung. Makanpun selesai… karena semua sudah capek ya ndak ada acara selain tidur.

Pagi Merapi

Entah pukul berapa saya bangun… tapi langit sudah terang, begitulah di gunung karena lebih cepat terkena sinar matahari. Dan inilah kenapa saya seneng banget dengan langganan saya ngecamp… karena hanya beberapa langkah naik bukit kecil saya sudah bisa melihat merapi dengan begitu jelas. Yah .. karena tempatnya ada dibalik pepohonan sekarang sudah jadi seperti toilet umum. Tapi memang tempat favorit saya ini tidak bisa untuk nonton sunrise. Harus ke bukit seberang buat nonton sunrise.

Saya tidak tahu jam berapa upacara di puncak kenteng songo dimulai. Tidak seperti upacara 17an umumnya, di Gunung itu upacaranya jauuuh lebih pagi. Tidak ada yang namanya detik-detik proklamasi, pokoknya menyesuaikan dengan keadaan dan sumberdaya yang ada. Jadi lebih baik kami segera berangkat saja menuju ke puncak.

Dari sabana 2 mungkin butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke puncak. Setelah sarapan kami mulai jalan. Trek menuju puncak ini sungguh trek yang paling membosankan di jalur ini, meski tidak separah Sindoro. mata kita dengan jelas memandang puncak tapi meski kaki sudah pegel-pegel kok ya nggak sampai-sampai.

Sekitar jam 7 kami sampai di puncak kenteng songo. Upacara belum dimulai jadi masih ada waktu buat foto-foto. Dan beberapa saat kemudian aba-aba untuk segera bersiap terdengar. Weist.. upacara niiih.. kali ini saya bisa ikut. tahun sebelumnya saya tidak bisa full ikut upacara di Merapi dan hanya nonton saja.. kali ini sepertinya bisa full ikut.

Puncak kenteng songo yang tidak terlalu luas itu rasanya jadi penuh sekali ketika semua berkumpul. Dan sebagian ada yang tidak berada pada tanah yang rata. Tapi kayaknya ya pada enjoy saja. dan saya beruntung bisa sedikit dapat tempat yang nyaman dan bisa sambil pegang kamera. Jadi bisa ambil video meski kurang bagus… 

Upacara selesai dan kami segera menuju ke sabana 1. Kami langsung masak seperti yang dimasak malamnya dan kemudian makan dan bongkar tenda, packing. Pengennya sih secepatnya turun sebelum jalur padet dan kena macet. Tapi… kadang ya kurang enak juga kalau turunnya terlalu cepet. Ini kan temen-temen baru pertama kalinya ke merbabu jadi ya biar sambil foto-foto. Karena memang pemandangannya sayang kalau dilewatkan.

 

Awannya bener-bener mantep meski tidak pake “betul’. Memang bener kami terbilang paling awal start dari sabana 2 tapi ini di sabana 1 ada beberapa yang sudah siap jalan juga. beneran, ini jalan bakalan padet pikirku waktu itu. ya.. mending istirahat saja sambil nunggu sedikit sepi.

Jalan lagi… dan dimulailah pergumulan kami dengan debu. Masker dipasang dan tancaaap… jalan pintas menuju ke pos 3 bener-bener sudah seperti tanah yang baru longsor dan sangat curam.  Karena saking curam satria bergitar di atas sampai harus melempar gitarnya ke bawah :D.

Di Pos 3 hanya kami hanya berhenti sebentar untuk minum dan pos 2 kita lewati. Jalur selepas ini sudah bener-bener padet bahkan macet dan harus antri. Dan debu-debu dari sini sampai basecamp sungguh sangat nikmat sekali, karena meski pakai masker masih saja bisa tembus bahkan masuk ke mulut.

Jalan sesudah pos 1 ini yang terasa banget debunya. Semakin ke bawah jalan lebih banyak dilewatin orang, jadi ya wajar kalau debu yang beterbangan lebih tebal. 

Nikmatnya lagi, ketika musim kemarau seperti ini.. badan kita yang penuh debu itu tidak bisa langsung dengan mudah dibasuh dengan air. di sana itu kalau musim kemarau airnya terbatas. Jadi ya nggak bisa trus seenaknya pake air. cukup tangan, kaki muka … sah.. dan begitulah ,,… kami bawa debu-debu merbabu yang nempel di badan sampai rumah !

Foto yang lain bisa dilihat di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.