Merapi Jalur Selatan Menagih Janji. bag: Kedua

Merapi Jalur Selatan Menagih Janji. bag: Kedua

Setelah memendam penyesalan karena tidak berhasil dengan penelusuran yang pertama, saya pun menyempatkan untuk mencoba kedua kalinya menelusuri jalur selatan Merapi. Hari sabtu terpilih menjadi waktunya. Dan untuk kali ini saya membawa teman untuk Pendakian Gunung Merapi kali ini…

Reveiw perjalanan kemaren… saya mencoba menelusuri jalur selatan merapi hingga akhirnya menemui jalan buntu di atas Gerbang Sri Manganti (Pos 1). Jalur yang lama telah tertutup dengan tumbuhan semak yang berduri. Ternyata, … jalan yang baru berada tidak jauh dari jalan yang buntu itu.Dan saya bersama teman saya bermaksud untuk mencobanya kali ini, kita skip saja perjalanan dari Kinahrejo sampai Sri Manganti, kalau belum baca mending ke sini dulu …

Pukul setengah sebelas siang kami tiba di Sri Manganti, suasananya sepi banget. ada sesuatu yang berbeda dengan ketika saya datang sebelum ini. Di sisi sebelah kiri Gerbang terdapat semacam gubug yang terbuat dari bambu dengan atap seng. Melihat warna bambu yang masih hijau sepertinya belum lama ini dibuat. Karena tidak menemukan seorangpun jadi tidak ada yang bisa dimintai informasi.

gubug

Baru sekitar pukul 11 siang kami meneruskan perjalanan. Sampai di tempat saya kehilangan jalan saya amati dengan cermat sekeliling, dan benar saja terdapat jalan ke kiri. Sedikit banyak rumput yang membuat jalan ini susah dilihat bagi orang yang tidak terbiasa melewatinya.

Menuju pos 2 (Pos Rudal) jalanan tidak begitu menanjak dengan ilalang yang cukup lebat di kanan-kiri jalan. Untung saya pakai baju lengan panjang sehingga tidak terlalu bermasalah dengan ilalang ini. Di tengah perjalan mulai terlihat rekahan puncak merapi yang nampak begitu dekat dari jalur ini.

Pos Rudal Setelah Erupsi

 

Rudal di Pos 2 Sesaat Setelah Erupsi

Pukul 12 siang lebih sedikit kami akhirnya sampai di Pos 2. Di tempat yang dahulunya terdapat Rudal kini dipenuhi dengan semak-semak yang sangat lebat. saya mencoba membuka semak tersebut dan memang sudah tidak ada lagi replika rudal yang dulunya di sini.

Berhubung sudah waktunya sholat zuhur kami istirahat dulu di sini, tentunya sambil makan nasi padang yang kami bawa dari warung di kaki gunung. Dari tempat ini puncak Merapi yang terbelah itu sangat jelas terlihat. Melihat batas vegetasi sepertinya sudah sangat dekat sekali seakan memberi semangat baru bagi kami.  Dulunya tempat ini terdapat sebuah pendopo yang juga digunakan untuk labuhan Merapi. Namun kini tinggal puing-puing saja.

Bekas Pendopo Pos 2

Setelah selesai makan dan sholat kami langsung tancap gas untuk mengejar waktu. Kita memang membatasi waktu maksimal sampai jam 3, Entah sampai di mana pada jam itu kami harus turun mengingat kita tidak ada rencara untuk menginap.

Awal dari pos 2 jalanan masih cukup terlihat jelas dengan pepohonan yang cukup rimbun. Kiri-kanan jalan banyak ditumbuhi semak liar namun tidak samapai mengganggu jalan.sekitar 30 menit kami berjalan kami sampai di alat pemantau aktivitas merapi. Nampak itu sepertinya belum lama dipasang terlihat dari rumput yang terpotong belum juga kering.

pemantau aktivitas Merapi

Jalur setelahnya ini yang sedikit membuat pegel, jalan tertutup semak yang lebat dan tinggi. Salah melangkah bisa terperosok kita. Meski sedikit samar tapi kami tetap mengikuti jalan hingga akhirnya kita sampai di ujung batas jurang. Jalan yang lama ternyata sudah ambrol. Terlalu nekat kalau mau melintasi jalur ini.

Akhirnya kami berbalik arah untuk mencari jalan lain, kita melewati lembah yang kemudian sampai pada jalur seharusnya. Jalan bekas longsor ini penuh dengan pasir sehingga kami sangat berhati-hati menyusurinya. Kembali ke jalur utama ternyata juga tidak kalah menantangnya. Di sini sudah banyak ditemui beberapa pohon cantigi, nampak juga lumut-lumut kering di atas tanah yang sangat labil.

Dan kesulitan sudah nampak di depan mata. Jalan seperti hilang tidak berbekas, tapi yang namanya tekad sudah bulat kami tetap mencari celah diantara rimbunnya lamtoro. Celah pun ketemu, namun kita harus sedikit membersihkan jalan dengan parang atau golok. Di sini baru sedikit teringat golok kami yang tertinggal di bawah pos 2. Tak mungkin juga kami membersihkan jalan dengan tangan kosong. Hampir kami memutuskan untuk kembali.

Melihat waktu masih tersisa sedikit dan batas vegetasi yang sudah di depan mata, kami masih memikirkan jalan yang lain. Lalu kami memutuskan untuk melewati jalur lembah, meski peluang untuk tidak menemukan tebing sangat kecil.

Kami pun menyusuri lembah yang penuh pasir dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Mata kami tetap memperhatikan sisi kanan berharap melihat celah untuk masuk ke jalur utama. Namun tidak kami temukan juga hingga tak terasa jalanan sudah berganti dengan batuan. Sekitar lima menit berjalan kami dihadang dengan jalan buntu lagi, kami belok kiri berharap ada jalan.

Namun harapan itu akhrinya harus pupus juga, tebing batu dengan tinggi 20 meter menyambut kami. Sempat terpikir untuk mendaki tebing ini mengingat tinggal sedikit lagi. Namun peralatan yang tidak mendukung dan juga jam di tangan sudah sampai di angka 3 yang berarti kami harus patuh pada aturan yang kami buat sendiri. Sayang memang sayang, tapi keselamatan haruslah yang diutamakan. Membuka altimeter menunjuk angka 2150 Mdpl dan juga sebagai akhir penelusuran jalur selatan ini.

Kami mencari tempat yang sedikit datar untuk sholat ashar. Kemudian kami segera turun agar tidak terlalu malam sampai di Kinahrejo. Meski sedikit kecewa namun itulah yang terbaik, setidaknya kami punya sebuah alasan untuk mencobanya lagi di lain hari. Harapan akan selalu tumbuh, seperti edelweis yang mulai mekar di sela-sela bebatuan yang kami lewati.

edelweis tumbuh di sela-sela bebatuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + seventeen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.