Semeru Tidak Selalu Nampak Indah

Semeru Tidak Selalu Nampak Indah
Udara semakin dingin, tanda kami sudah memasuki kota malang. Kereta berhenti sebentar di stasiun kepanjen untuk menurunkan beberapa penumpang. Sampai juga kami di Kota Malang, di Kota inilah Para Pendaki Semeru pertama kali menginjakkan kakinya sebelum menuju ke Ranupani. Setengah jam lebih sedikit, kareta sampai juga di stasiun malang. kami segera turun dari kereta untuk menghirup udara kota malang yang segar.
Tujuan berikutnya adalah menuju ke Tumpang, begitu keluar statasiun kami langsung diserbu sopir-sopir angkutan yang menawarkan jasanya. Kubilang saja mau istirahat dulu. Dan di sinilah kami ketemu satu teman lagi yang akan bersama-sama menyusuri lereng Gunung Semeru. Anak ini sedikit unik. Dia berasal dari Gorontalo, sebut saja GR, awalnya liburan ke Surabaya, kemudian meneruskan liburannya ke Jogja. Di jogja, dia ketemu sama orang yang baru aja mendaki ke semeru, pas sama-sama nogkrong di angkringan. Singkat cerita, tertariklah dia dan segera menuju ke malang.
Karena kita juga kurang personel maka aku tawarkan saja untuk gabung dan dia setuju. Ok kita akhirnya menerima tawaran angkutan kota yang dari tadi terus saja membujuk untuk menggunakan jasanya, lagian kita juga ndak nemuin lagi orang yang bisa kami ajak sharing cost untuk agkutan ini. Akhirnya kami harus terima dengan ongkos 60.000 sampai ke tumpang.
Kami sampai di tumpang sekitar jam 6 pagi, untung ada ibu-ibu yang jual nasi kuning jadi kami tidak repot buat nyari sarapan. Di sini kami ketemu dengan dua orang rekan dari semarang. Bertambah lagi manjadi 5 orang tim kami. Kami melengkapi logistik yang masih kurang terutama teman yang dari gorontalo yang sama sekali belum belanja sedikit pun. Teman-teman dari semarang masih sibuk mengurus surat keterangan sehat.
Setelah semua komplit kami segera mencari kendaraan untuk menuju ke Ranupani. Sebelumnya ada bapak-bapak yang menawarkan jasa kendaraannya dengan harga 600 ribu, akhirnya kami sanggupi dengan syarat kami harus dapat tambahan 3 orang lagi. Dan pada akhirnya setelah mendapat tambahan penumpang kami berangkat menuju Ranupani.
Kami sampai di Ranupani sekitar jam 10 pagi, langsung saja kami menuju ke pos pendaftaran. Kami hanya mendaftar dengan 5 anggota saja. Sedangkan yang bertiga menjadi kelompok sendiri karena memang sudah memenuhi syarat minimal jumlah anggota kelompok.
Langsung saja kami mendaftarkan di pos, sempat nanya sama petugas mengenai jumlah kuota yang sudah habis di booking online. Petugas kemudian menjawab, mereka yang sudah sampai di pos terlebih dahulu tetap menjadi prioritas meskipun belum booking secara online. Simaksi kami isi dan membayar tiket masuk satu orang sebesar 57.500, dengan rincian 22.500 karena hari libur dan dua hari biasa 17.500.
Habis itu kami semua di arahkan oleh petugas untuk berkumpul dalam satu ruangan di pos. Kemudian carrier semua yang sudah mendaftar di cek satu per satu. Kemudian pendaki mendapatkan penjelasan secara umum tentang pendakian di gunung Semeru. Ini mungkin hal baru yang berbeda dengan gunung-gunung lainnya. Sambil menunggu waktu aku keliling melihat-lihat Ranu Regulo dari basecamp. Ada beberapa orang yang memancing ikan di tepiannya. Para pendaki juga di turunkan di pinggir telaga ini setelah dari Tumpang.
Setelah sholat dzuhur kami segera mencari pengisi perut yang mulai keroncongan. Tak jauh dari basecamp ada sebuah warung yang sepertinya cukup menarik. Kami ke sana dan memesan beberapa menu. Aku pilih soto ketika itu, meski sedikit berbeda dengan soto yang di rumah tapi tetap istimewalah. Dari warung ini nampak jelas loket pendaftaran yang masih saja ramai di penuhi pendaki yang mendaftar. Tidak bisa ngabayangin gimana nanti ramainya di atas sana. Belum lagi ditambah mereka yang dari pagi sudah berangkat.
Selesai makan kami cek kembali semua peralatan dan perlengkapan. Di musim paenghujan memang kalau dipikir-pikir barang bawaan jadi semakin banyak. Baju ganti juga lebih banyak dari biasanya udah mirip ibu-ibu mau piknik. Tapi mending disiapin semuanya di awal daripada ribet di akhirnya nanti.
Dan jam tangan sudah menunjukkan pukul 12:45 setelah semua selesai mengecek peralatannya kami segera saja berangkat. cuaca siang itu cukup panas baru berjalan sebentar saja keringat sudah berkucuran. Inilah istimewanya musim hujan kalau tidak hujan ya jadinya panas, gerah dan tidak nyaman. Hanya sekitar lima menit kami sampai di gerbang pendakian. Di sini adalah tempat cek terakhir administrasi pendakian, tiket kami dicek kembali satu per satu. Ini mengantisipasi beberapa pendaki yang kadang masuk tanpa ijin.
Karena teman kami yang dari semarang pengen foto di gerbang yang sudah kondang ini aku pun akhirnya ikut. Tapi sayang kini sudah tidak tahu foto di tempat ini hilang ke mana. Ini juga  pintu awal pendakian, seperti biasa kami berdoa terlebih dahulu sebelum mulai berjalan. Ladang penduduk tampak begitu rapi menghijau disekeliling kami. Awal perjalanan memang selalu berat karena tubuh masih dalam adaptasi. Satu jam lebih kami sampai di landengan dowo, tak mau menyiakan waktu kami hanya ambil nafas di sini.
Perjalanan diteruskan kembali bersamaan langit yang makin gelap, sambil jalan terus saja berharap agar tidak turun hujan. Meski Sudah dipersiapkan tetap saja tidak enak berjalan ditengah hujan. hampir satu jam kami sampai juga di pos 1 yang ternyata sudah penuh dengan pendaki yang beristirahat, kami terus saja berjalan dan baru beberapa meter…. bressss… tanpa peringatan.., hujan langsung membasahi kami. segera saja kami berlari menuju shelter… tapi yah.. namanya juga penuh malah nggak nyaman rasanya. Mending lanjut saja, tentu setelah pakai mantel.
Dari sini perjalanan mulai terasa segar sesegar air pegunungan, jalur yang kami lalui langsung tergenang air. Kami hanya berusaha terus berjalan untuk segera sampai di Ranu Kumbolo. Meski sadar kalau itu masih harus ditempuh beberapa jam lagi.
Watu Rejeng terlewati entah kapan, aku hanya fokus ke depan saja. Sesekali kami berhenti untuk mengatur nafas. Meski trek tidak terlalu menanjak tapi kondisi hujan membuat kita cepat lelah. Sesekali melihat sebelah kanan tampak lereng-lereng yang bisa kapan saja longsor. Jadi sepertinya tidak baik untuk lama-lama berhenti di sini.
Dari kejauhan nampak sudah shelter pos 3 yang juga sudah penuh. Kami hanya duduk sebentar di sini menyiapkan nafas untuk tanjakan di belakang pos yang lumayan cukup tinggi. Setelah ini kita akan sampai di Ranu Kumbolo, sedikit merasa lega dan membayangkan minum teh panas di dalam tenda. Sayangnya, perjalanan dari pos 3 inilah yang paling panjang di jalur Ranu Pani – Ranu Kumbolo. Entah jam berapa ketika kami mulai ngos-ngosan menaiki tanjakan yang licin dengan tanah kemerahan ini. Di pucuk tanjakan berhenti sebentar untuk mengatur nafas sebelum akhirnya jalan lagi.
Setelah berjalan lama  aku ingat kalau seharusnya kami sudah bisa melihat Ranu Kumbolo, namun kabut di bawah hujan ini membuat kami hanya tahu dua warna, hijau dan putih. Dan samar di kejauhan nampak lapangan yang tertutup kabut putih, itu dia ranu Kumbolo. Kami terus saja berjalan sambil berharap tidak kemalaman sampai di ranu kumbolo.

Ranu Kumbolo…

Melihat jam sudah berangka 5:15, hujan mulai reda dan apa yang kami tunggu akhirnya menampakkan diri, Ranu Kumbolo. Sedikit lega dan kami istirahat sebentar di ujung danau ini. Meski samar matahari nampaknya sudah makin rendah di sisi kiri kami. Beberapa foto kami ambil di sini setelah dalam perjalanan tadi tidak sempat mengeluarkan kamera.
Ranu Kumbolo

Tak berapa lama kami sampai di Shelter pos 4 tapi kami memilih langsung turun untuk segera mendirikan tenda. Namun tampaknya rasa lelah membuat kami harus sedikit bersitirahat, meski camp area masih diseberang telaga. Baru setelah matahari terbenam (kira-kira) kami menuju camp area. Sudah gelap ketika kami mencari lahan kosong untuk mendirikan tenda. Tenda berdiri dan Setelah masak… makan dan sholat rasanya tidak ada alasan lain selain kami segera tidur…

Setengah 5 pagi aku terbangun, segera sholat subuh dan mempersiapkan air panas untuk membuat minuman. Sambil menyiapkan air kulihat bang GR sedikit menggigil dan tak lama kemudian dia bangun. Setelah diusut ternyata sleeping bag yang dia pakai sedikita basah di ujungnya ditambah celana jeans yang dia pakai juga ndak kalah basahnya…. lupa dia tidak membungkusnya dengan plastik kemaren. Cover bag tentu tidak seratus persen tahan terhadap air. Untung saja tidak terserang hipotermia dia.
Sambil jalan-jalan sekalian saja aku ambil air untuk masak, di tepi Telaga ketika ngambil air aku sempat ngobrol dengan seseorang yang berasal dari cirebon. Dia menceritakan kenapa dia sampai di Gunung semeru. Uniknya, orang ini tengah menikmati wisata bersama keluarga besarnya. Bener-bener ini gunung sudah seperti wisata keluarga, pikirku dalam hati. Tante, om dan adiknya yang masih kecil ikut juga dalam pendakian ini.
Camp di Ranu Kumbolo
Lalu dia pergi karena dipanggil ibunya, sementara aku masih kepikiran, Kira-kira kalau 5CM syutingnya pas cuaca seperti ini, apakah masih juga Semeru seramai ini hehe.. tidak ada sunrise yang muncul diantara bukit ayek-ayek, bahkan seluruh permukaan Ranu Kumbolo tertutup kabut.
Setelah sarapan kami segera packing untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimati sebagai tempat camp hari ke-2. Masih juga kami berharap akan sedikit cerah cuaca hari ini sambil mengepak barang-barang yang kebanyakan sudah basah, terutama tenda dan baju yang kami pakai kemaren. Dan benar saja… matahari sedikit mengintip. Ndak apa daripada tidak sama sekali hehe…
Semua barang sudah selesai dipacking dan masuk ke carrier kita siap berangkat kapan saja. Rencanannya sih kita mau ngejar Jum’atan di Kalimati atau Jambangan. Namun ketika kami mau mengawali langkah, ada setetes air jatuh… ahh… gerimis lagi.. tapi sebelum kami mengeluarkan peralatan tempur,.. gerimis sudah hilang.., mungkin hanya kabut pikirku. Dari pada jadi hujan beneran akhirnya kami segera berangkat.
Menaiki tanjakan yang kondang dengan mitosnya, tanjakan cinta, menjadi awal perjalanan hari ke-2 ini. Aku jalan aja seperti biasa sambil sesekali mengamati Ranu Kumbolo, peduli amat sama mitos hahha… tidak sampai 10 menit sampai juga di ujung tanjakan. Di sebaliknya sudah terlihat oro-oro ombo yang terkenal dengan buka warna ungunya. Meskipun,.. ah gerimis lagi…
Kali ini sedikit serius… payung kukeluarkan untuk sedikit menghadang gerimis. Tak berlama-lama perjalanan diteruskan. Dari sini biasanya ada dua pilihan, mau lewat jalur di tengah bunga-bunga atau lewat atas di pinggir lereng bukit. Kami memilih lewat atas, sedikit memutar namun ini jalan yang paling nyaman daripada harus becek-becekan di tengah padang bunga yang dulunya ungu. Ketika itu sudah tidak ada lagi bunga-bunga ungu itu, tinggal batangnya saja yang sudah berwarna coklat kehitaman dan mulai membusuk karena kerendam air. Kasian juga yang sudah punya rencana mau selfie di situ, pikirku.
Menuruni jalan dan… kali ini hujan gerimis makin menjadi dan sudah layak disebut hujan… kami percepat langkah menuju Cemoro Kandang. Setidaknya ada tempat yang sedikit teduh untuk istirahat sebentar dan memakai ponco. Udah Ada beberapa orang yang berhenti di Cemoro kandang ketika itu.
Setelah semua mengenakan jas hujan dan ponco perjalanan dilanjutkan. nampaknya ini akan menjadi perjalanan yang sedikit berat, pikirku. Dari cemoro kandang jalanan sedikit licin, dikanan kiri banyak pohon tumbang menutupi jalan. Tampak juga beberapa tumbuhan mulai bersemi diantara bekas-bekas kebakaran.
Trek mulai nanjak, meskipun tidak terlalu nanjak juga tapi rasanya kaki kok ndak ada tenaganya. Padahal ini masih belum seberapa dibanding tanjakannya Gunung Merapi atau Merbabu. Hmm.. tampaknya efek kelelahan karena sebelumnya kehujanan seharian sudah mulai kerasa…
Beberapa kali kami berhenti sambil makan apa yang bisa dimakan tentu saja masih di bawah hujan, untungnya saja kemaren bawa banyak makanan. Jambangan yang dinanti-nanti juga tak kunjung kelihatan. Hujan bukannya makin reda malah semakin menjadi-jadi. kulihat di jam tangan sudah pada angka 11 kurang.
Setelah beberapa menit berjalan kami sampai di Jambangan juga. Kami berhenti lagi sebentar di tempat ini. “Seharusnya gagahnya Mahameru terlihat dari sini !” kataku, mencoba membuat obrolan agar suasana sedikit hangat. Namun derasnya hujan sepertinya membuat suaraku kurang begitu didengar… behhh.. dikacangin, hahaha… ah perut mulai lapar, kebetulan sekali pas ada orang yang nawarin biskuit. Lumayan buat ganjel perut.
Rencana tinggal rencana… di Jambangan sepertinya tidak memungkinkan kalau mau bikin Sholat Jum’at. Lha yang ada tanah lapang yang luas itu berubah jadi kolam… mungkin nanti di Kalimati, masih berharap juga pokokknya memenuhi obsesi untuk Jum’atan di Semeru.
Kami akhirnya meneruskan perjalanan beberapa menit sebelum akhirnya jalan menurun menuju Kalimati. Ada beberapa pohon yang tumbang dan menutupi jalan, cukup mengganggu meski tidak terlalu menyulitkan. Sedikit kusingkirkan beberapa ranting agar tidak terlalu menggangu jalan. Bang Uz sudah tidak kelihatan entah ke mana. Hujan sepertinya tidak memberikan tanda mau berhenti, jalan yang dilewati sedikit tergenang air… kira-kira ya 15 Cm, cukup dalam buat air bisa masuk lewat leher sepatu,… lumayan lah terasa sejuk-sejuk gimana di kaki ehehehe…
Sampai di Kalimati,  mulai sadar kalau ada yang ndak beres…ke mana perginya bang UZ ! aku coba teriak-teriak beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku berhenti di dekat jalan menuju Sumber Mani. Kuputuskan untuk balik lagi menyisir siapa tahu dia ketiduran di jalan. Jangan salah, temanku ini unik ! mau cuaca seperti apa kalau ngantuk ya tidur aja walau hujannya segede apa.
Carrier kulepas dan kembali ke jalan menuju jambangan. kusisir tepian-tepian jalan siap tahu dia nyungsep hehe… akhirnya tidak ketemu juga. Makin bingung juga karena sudah samapi di tempat terakhir kami bareng. Akhirnya aku balik lagi ke arah Kalimati sambil tetap berteriak-teriak dan membuka-buka semak. Sampai di tempat meninggalkan carrier belum ada juga, bang Gr juga belum melihat katanya. Dan bang Gr tampak mulai menggigil, “duh … gawat …” pikirku. Aku  tinggalkan lagi bang Gr dan menuju ke arah shelter. Aku teriak-teriak aja di bawah hujan deras. karena tidak juga ada jawaban akhirnya balik lagi dengan maksud membawa Bang gr ke shelter untuk menghangatkan diri.

Carrier kupakai lagi, sesaat sebelum melangkah akhirnya ada orang manggil-manggil… kemudian aku sedikit bergeser ke tempat yang mudah dilihat. Ah benar saja itu bang uZ, sempat juga mau marah sama dia… ahh.. tapi sudahlah… jadi teman saya yang sangat baik hati ini berinisiatif untuk berjalan duluan karena ia yang bawa tenda. Maksudnya, agar nanti yang lain sampai di kalimati tinggal masuk aja. Sayangnya,.. hal itu tidak diberitahukan pada kami berdua.

Kalimati

Sambil jengkel kami berjalan ke tenda yang sudah didirikan sama bang uZ, sembari mendongak ke sebelah kanan Mahameru samar-samar kelihatan sangat gagah. Sampai di tenda kami segera ganti pakian yang kering. Ketika itu sudah setengah satu siang, dan teman-teman sudah pada males mau diajakin Jum’atan… gagal sudah obsesi Jum’atan di Semeru !
Kami masak dan kemudian makan siang. Tampak beberapa tempat di depan tenda kami sudah mulai penuh dengan tenda. Sehabis Sholat Ashar, langsung saja kami ambil sleeping bag, siap untuk mengumpulkan tenaga buat summit attack dini hari nanti. Mau keluar juga gerimis jadi mending tidur…zzz.
Mungkin karena saking lelahnya tak terasa hp saya yang sholeh…hp-nya yang soleh !!! sudah mengumandangkan azan. Aku keluar tenda untuk sholat maghrib. Nampaknya diluar sudah tidak hujan lagi. Dan ada beberapa pendaki yang baru saja sampai di Kalimati. Sehabis maghrib tidur lagi tentunya hehe….
Sekitar jam 10 sudah terbangun lagi,… teman-teman satu tenda masih pada tidur dengan nyenyak. Bingung juga mau ngapain, rencana menuju puncak sih sekitar jam satu pagi. Akhirnya kuambil peralatan masak untuk bikin kopi. Baru setelah jam 11 kubangunkan teman-teman. Masih banyak yang harus kami persiapkan untuk bekal ke puncak nanti.
Kami masih bersiap ketika tenda sebelah sudah mulai briefing buat ke puncak. Sekitar setengah satu mereka berangkat. Dan tak lama kami juga menyusul, tak banyak bekal kubawa waktu itu, hanya coklat, biskuit, air 500 ml dua botol dan 1 termos pinjeman emak untuk cadangan minuman hangat. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan ini kecuali gelap, antri panjang. Dan sesekali hujan abu menambah sesak dalam oksigen yang makin tipis.

Sampai dibatas vegetasi kami berhenti sedikit lama sambil nunggu antrian. Melihat di depan (atas) sudah mirip sama kunang-kunang yang lagi baris. Sepertinya bakalan lama kalau harus antri kayak gini… untung saja ada jalur alternatif di sebelah kanan. Sedikit zig-zag tapi dengan pasir yang cukup stabil. Sesekali terdengar orang memperingatkan batuuuuuuu !!! karena memang beberapa batu ada yang mengguling ke bawah. Kami berjalan dengan santai sambil sesekali menikmati deretan lampu-lampu kota malang…

Mahameru…

Hampir jam lima pagi ketika berhenti untuk sholat subuh. Tampaknya sudah mau sunrise, langitnya sudah kemerahan… tapi tiba-tiba kabut sedikit menutupnya, jadi sunrisenya tidak begitu terlihat jelas. Ah yang penting nyampe puncak aja dulu…makin lama berjalan nafas makin seperti tercekik saja. Kaki juga sudah lemes banget…
Puncak Mahameru
Dan Taraaaaa… tiba di puncak, jerit-jerit histeris terdengar dari beberapa pendaki yang meluapkan kegembiraannya… aku sih biasa aja. Emang ga bisa histeris-histeris seperi itu hehe… puncak seperti apa ?? liat aja 5 cm. Cuma beda suasanya aja kok hehe…

Perjalanan pulang…

Sekitar setengah delapan pagi kami mulai turun menuju ke Kalimati… sampai di kalimati sudah sekitar jam 9. Dan bayangan di jalan akan langsung minum teh ternyata kandas. Di dalam tenda hanya ada orang ngorok… tak lama kemudian semua sudah komplit dan kami memasak berlima di dalam tenda. Gerimis belum juga berhenti dari ketika sampai tadi. Rasanya nyaman seperti di rumah kalau pas hujan… nyaman banget buat tidur dan males-malesan.
Ahhhh… langsung keinget kalau sore atau malam nanti sudah harus sampai Malang… segera saja kami bongkar tenda dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang… sekitar jam 1 siang ketika kami selesai packing. Setelah foto beberapa kali dan pamitaan sama tetangga sebelah.. kami mulai berjalan pulang… ini sebenernya perjalanan yang paling menantang…
Belum ada 5 menit berjalan hujan sudah turun lagi…namanya juga musim penghujan. Untung aja udah jalan, coba kalau didalam tenda.. pasti akhirnya kami malah nginep lagi satu malam di Kalimati. Dari langit putih ratanya sih, ini hujan akan sedikit lama…
Jalan dari kalimati menuju jambangan berubah jadi mirip sungai kecil yang lagi banjir. Hutan di bawah jambangan juga tidak kalah. Derasnya hujan bahkan sampe bikin mata pedes. Terus saja kami berjalan hingga sampai juga di Cemoro Kandang. Tak lama-lama kami langsung menuju Oro-oro Ombo… luar biasa… udah kaya’ rawa beneran ini. Di tempat bunga yang mirip lavender ini airnya nyampe 20 cm dalemnya. Brrrrr…. udah mirip berendam di air es.. seperti mati rasa kaki ini. Untung ndak lebih dari 10 menit… kami langsung naik ke jalur kemarin berangkat… dan akhrinya Ranu Kumbolo terlihat juga…
Sampai di sini hujan sedikit reda, kami sempat mampir di pos 4 sambil menikmati susana Ranu Kumbolo. masih nampak juga beberapa tenda di seberang sana. Kami foto-foto sebentar setelah tadi dari kalimati tidak sempat mengeluarkan kamera karena saking derasnya hujan.
Lanjut berjalan… sampai di pos 3 suasana sudah berbeda, kami berhenti istirahat sambil menunggu beberapa pendaki yang berjalan berlawanan dengan kami. kondisinya sudah beda dari kemarin kita lewat. Ada pohon tumbang dan tanahnya longsor… ketika kami lewat kami harus hati-hati karena sangat licin.
Kami terus saja berjalan di hari yang makin sore, makin dingin… dengan baju yang juga sedikit basah.. ahhh… jalan masih jauh pikirku. Naik turun bukit dan lagi-lagi.. di depan jalan juga longsor… sedikit lebaih parah dari pos 3 tadi. Ini hampir tidak bisa dilewati. Hanya ada jalan selebar telapak kaki. Untung pengelola bergerak depat dan dipasang tali penngaman buat pegangan.
Makin gelap saja suasana dan hujan yang tak kunjung reda juga makin menambah sulit pergerakan. Tapi meskipun begitu kami juga masih berpapasan dengan beberapa pendaki yang menuju Ranu Kumbolo. Dan hebatnya, dengan santainya mereka menenteng-nenteng bawaannya, parahnya lagi itu sleeping bag… “apa tidak basah” kataku… “ndak usah heran,  mereka kan anak muda” kata bang Uz.
Sampai di Watu Rejeng kami sudah harus memakai Headlamp karena sudah terlalu gelap. Sepertinya kok perjalanannya ndak nyampe-nyampe atau hanya perasaan kami yang kelelahan. Di kejauhan Pos 2 sudah terlihat, ada beberapa pendaki yang berteduh di sana. Kami hanya mengambil nafas dan meneruskan perjalanan.
Hujan sepertinya malah tambah deras, tanda-tanda peradaban juga belum kelihatan. dan sialnya senter teman kami yg dari semarang mati, dan mereka berdua harus bergantung pada senter dari kami bertiga. Padahal jalan sebelum landengan Dowo ini cukup sempit. Tiba-tiba ada suara dibelakang kami seperti orang buru-buru sambil berkata “bro  tolong beri jalan, mau manggil SAR. ada teman yang jatuh” begitu katanya. Langsung dia kami suruh duluan. Ternyata temannya jatuh di tempat longsor sebelum Watu Rejeng.
Tak lama kami sampai di Landengan Dowo. Pos ini juga sudah penuh dengan orang. Kami langsung saja berjalan. Dan kemudian kami sudah sampai di ladang penduduk bersama dengan kumandang azan Isya’. Meski sudah dekat ternyata namanya lelah itu ada-ada saja… didepan beberapa kali terlihat teman kami jatuh karena jalan yang licin.
Sekitar setengah delapan malam kami sampai di pos ranupani. Setelah menyerahkan sampah kami semua pergi sendiri-sendiri. Yang jelas pengen mandi, udah tiga hari ga mandi kangen rasanya hahaha…
Setelah antri beberapa lama barulah aku mandi… dan ternyata… meski sudah diguyur hujan tiga hari, tetep saja airnya dingin banget. perut rasanya mau kaku…. ahhh…
Selesai mandi timbul lagi masalah. Rencana langsung turun ke malang gagal karena teman-teman yang sharing cost kemaren tidak mau untuk mengambil jeep yang kemaren kami sewa karena kemahalan. Mereka rencananya akan naik jeep terbuka berangkat jam 11 malam dan sudah ada 16 penumpang. Mengingat kondisi bang Uz yang sudah kelelahan akhirnya kami berdua memilih turun esok paginya…
Cukup menyegarkan sekali pendakian waktu itu, bukan karena guyuran hujan selama tiga hari. Akan tetapi suasananya yang benar-benar bisa membatasi semua perangkat digital, yang kadang justru membuat kita lupa bagaimana harus manikmati alam. Dan jika kita tidak melihat keindahan, tentu ada yang salah dengan imajinasi kita hehehehe…

2 thoughts on “Semeru Tidak Selalu Nampak Indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.