Sindoro; Sebuah Permulaan

Sindoro; Sebuah Permulaan

“Sindoro, Gunung yang gersang, setidaknya kala itu. dengan puncak bayangannya yang membosankan. mematahkan semangat … meski begitu, ada padang edelweis menanti di sana. ada puncak yang amat luas. Gunung yang pertama kali mengenalkan pada dingin, cakrawala, juga kebersamaan… bahkan megahnya Semeru tak mampu menandingi sensasi kala itu”

Itulah sebaris kata yang pernah saya tuliskan di facebook beberapa waktu lalu. Kenangan akan sebuah ketakjuban saya kepada gunung sindoro. Tentu yang membuat kesan sangat dalam adalah karena dari gunung inilah awal mengenal hobi masih saya lakukan sampai saat ini. Sebenernya ini hanya saya tulis untuk sekedar catatan pribadi saja. Bukan sebuah catatan perjalan yang bisa dijadikan pedoman bagi yang berkeinginan untuk mendaki gunung sindoro, meski begitu ada baiknya dibaca untuk sekedar berbagi kesan dan pengalaman hehe. Kalau mau bicara masalah gunung mau tidak mau harus cerita juga tentang masa-masa SMA, Karena saya mulai dikenalkan dengan gunung di masa ini. Berawal ketika masuk kelas 2, Karena sekolah membuat kebijakan pengoplosan siswa setiap kenaikan kelas. Kurang tahu kenapa harus seperti itu, saya pikir dulu karena biar orang-orang bodoh seperti saya ini harus dipisahkan agar tidak menular kepada siswa yang lain hehe.

Kemudian beberapa hari setelah masuk di kelas yang baru ini bertemulah saya dengan Luwak, kesan pertama muncul dari orang ini adalah selera humornya atau lebih tepatnya cengengesannya haha… Lalu ada apa dengan orang ini, dia mengutarakan keinginanya untuk meminjam tas yang saya pakai ke sekolah. Katanya mau dipakai naik gunung, saya juga baru tahu kalau tas yang saya beli itu bisa dipake buat naik gunung. Saya tidak terlalu menanggapi dengan serius ketika itu, lha wong dasar orangnya slengean jadi kupikir hanya iseng saja. Akhirnya,.. tidak jadi dia pinjem tas eh malah dia nawarin untuk ngajak naik gunung.

Informasi yang saya dapat saat itu dari  Luwak ini sangat minim sekali, yang pasti kira-kira waktu pendakian akan membutuhkan waktu dua hari semalam kalau dihitung dari rumah. Dan yang kedua kalau berangkatnya sekitar jam 3 sore dari rumahnya. Ketika itu saya tidak langsung menjawabnya, saya hanya bilang mau pikir-pikir dulu.

Gunung Sindoro, nama ini pernah denger ketika SD dulu. Sebuah Gunung yang mana mata air Sungai Progo berasal. Samar teringat itu berada di antara kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Semalaman saya membayangkan Gunung Sindoro ini dan tentu saja yang penting membayangkan berapa duit yang harus dikeluarkan 😛

Dan keesokan harinya, jawaban saya berikan bahwa saya memutuskan untuk ikut naik Gunung Sindoro. Karena masih penasaran seperti apa naik gunung itu saya tanyakan teknis-teknisnya sama si Luwak, eh… dia bilang tinggal ngikut aja !. Kemudian dia menulis beberapa hal yang harus saya bawa. Kalau tidak salah, Indomie 4 bungkus, jaket, ponco, dan botol air minum. Oh ya satu lagi, sandal jepit. lalu saya tanya lagi sama siapa saja kami akan berangkat besok, lalu disebutkannya Doco, mBendol, Kelik, dan satu lagi teman dari kampungnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang baru saja saya kenal. Tidak banyak yang saya tahu dari mereka. Tapi yang jelas, si doco pernah naik gunung meskipun hanya gunung ungaran, kelik pernah naik ke merbabu dan teman sekampungnya  yang kemudian saya kenal dengan nama Gempong ini juga sudah berkali-kali naik gunung, sisanya  ,  mBendol ini juga masih buta sama Gunung.

Skip…

Satu hari sebelum pendakian … saya buka lagi catatan yang pernah diberikan luwak, satu persatu saya siapkan agar esok paginya waktu ke sekolah saya tinggal bawa aja, karena saya berencana setelah pulang sekolah akan langsung ke Rumah si Luwak. Pagi hari sebelum berangkat saya cek lagi, setelah semua Ok saya berangkat. Tapi ternyata mamah saya tercinta memanggil dan saya pikir mau dikasih duit, ternyata saya salah besar ternyata singkong sama jeruk.. ah dia pikir saya mau piknik mungkin… tapi tak apalah ndak ada salahnya dibawa. Dan karena terlalu semangat saya sampai sekolah masih sangat pagi sekali, hanya beberapa ekor saja anak-anak yang ada ketika itu. Tapi ada untungnya juga kalau sudah ramai pasti saya dikira orang aneh atau kuli yang nyasar ke sekolah.

Pelajaran di sekolah akhirnya selesai juga, pulang sekolah langsung menuju rumah Luwak sebagai meeting point. Kemudian saya siap-siap sambil menunggu teman yang lainnya tiba. Berhubung ini baru pertama kalinya saya naik gunung maka banyak hal yang saya belum tahu, celana misalnya. Saya bawa ganti celana berbahan jeans, nah ketika saya pakai si Luwak ini langsung menyarankan untuk ganti saja dengan celana yang lain karena menurut dia celana jeans itu kurang enak dipakai di gunung, ketika dingin ikutan dingin dan ketika panas ikutan panas. Bingung juga mau pake celana yang mana, wong ya hanya bawa ganti itu saja akhirnya keputusan mantap pakai celana sekolah ahahaha…. dan satu persatu anggota terkumpul. Doco, Gempong kemudian Kelik dan mbendol yang datang bersamaan. Setelah mengecek beberapa hal kami segera berangkat.

Paling tidak dari rumah si luwak ini perlu berganti kendaraan umum tiga kali sampai akhirnya sampai di Basecamp Sindoro. Meski Cuma 3 tapi waktu tempuhnya cukup bisa bikin pantat panas. Tentu di hari sabtu angkutan umum jurusan luar kota penuh dengan orang yang akan kembali ke rumahnya tak ketinggalan aromanya juga hehe. Pertama kami harus naik Bus Jurusan Jogja – Semarang dan turun di terminal Tidar Magelang.

Sambil bercanda di dalam bus tak terasa kami sudah sampai di terminal Magelang. Dan faktanya adalah saya baru pertama kali masuk ke Terminal ini hehe… terminal ini tidak terlalu luas menurut saya. Hanya sekitar setengah dari luas terminal Umbul Harjo. Terlihat beberapa minibus menurunkan penumpang dari berbagai jurusan. Suara khas kernet nyaring terdengar di telinga mencari penumpang.

Tak lama saya sudah diberi kode untuk naik ke sebuah bus dengan dominasi warna hitam dengan tulisan didepannya “Magelang – Temanggung – Wonosobo” dan itu juga sebagai informasi bahwa temanggung menjadi kota pertama setelah Magelag yang akan terlewati. Nasib tidak terlalu baik, kami harus berdiri karena sudah tidak ada tempat duduk. Itu tidak jadi masalah karena tentu sudah terlatih setiap hari jadi kernet setiap pulang sekolah :P..

Setelah beberapa kali menurunkan penumpang akhirnya kebagian tempat duduk juga. Secang, dan kemudian kami memasuki temanggung Cukup ramai juga temanggung ketika itu meski dari dalam bus tidak bisa dengan leluasa memandang ke segala arah. Tak beberapa lama kami bus sudah meninggalkan kota Temanggung. Dari sini pemandangan sudah mulai sedap untuk dipandang. Hamparan sawah luas dengan perbukitan dan Gunung sebagai Backgroundnya.

Nampak dari jendela bus dua Gunung yang menjulang, “yang dekat dan terlihat besar itu gunung Sumbing !” begitu Luwak menjelaskan mirip seorang guide hehe, berarti Sindoro yang sebelah kanan yang akan kami tuju, pikirku !. Bus berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang di pasar Parakan. Parakan ini sebuah kota kecamatan kecil setelah temanggung. Pasarnya sendiri cukup ramai untuk ukuran pasar yang kecil. Setelah menaikkan beberapa penumpang bus pun melaju kembali. Dari sini sudah terasa jalanan yang mulai menanjak dan bekelok-kelok. Tampak beberapa sudut jurang yang menghitam seiring matahari yang mulai tenggelam.

Hari sudah gelap ketika kami sampai di Desa Kledung, Temanggung. Ini adalah desa di mana basecamp pendakian berada. Namun kami tidak langsung menuju basecamp, kami mampir di sebuah masjid untuk Sholat maghrib. Sedikit aneh juga karena saya merasa sholat menghadap ke arah timur. Bingung dan kehilangan orientasi seperti ini adalah hal wajar ketika kita melewati jalan yang berkelok-kelok dan berada di dalam kendaraan. Dan uniknya, Bahkan ketika sudah berkendara sendiri saya masih bingung di masjid ini. Bedanya, kalau dulu serasa menghadap ke timur,  sekarang saya seperti menghadap ke selatan ketika Sholat.

Setelah sholat maghrib kami menuju basecamp yang jaraknya tidak terlalu jauh, tidak sampai 5 menit. Bagi orang yang pertama kali mendaki seperti saya tentu hanya bengong dan tidak tahu harus ngapain, saya Cuma nonton saja orang-orang bersiap-siap untuk mendaki. Ternyata air untuk persedian mendaki sudah disiapkah oleh si Luwak. Perut sudah mulai keroncongan, baru setelah beberapa menit nasi yang kami pesan datang. Sekitar pukul setengah delapan kami memulai pendakian, setelah registrasi. Sampai di sini masih tidak ada bayangan di kepala seperti apa perjalanannya nanti.

Pada awal perjalanan kami masih menyusuri rumah-rumah warga. Penduduk sekitar basecamp ini mayoritas adalah petani. Ketika itu tembakau menjadi tanaman utama dari para petani di sini. Berbeda dengan desa-desa petani di Jogja, rumah-rumah di sini saling berdekatan dan sangat rapi. Tak berapa lama kami sudah mulai memasuki ladang dengan jalan makadam (tatanan batu). Aroma khas yang sangat tajam tiba-tiba tercium… katanya ini adalah pupuk kandang yang digunakan sama para petani. Bau yang sangat tajam itu kemudian hilang bersama dengan angin yang bertiup. Namun sebagai gantinya hawa dingin mulai terasa, ini baru di sini bagaimana di atas nanti, pikirku kala itu.

Jalan makadam habis setelah berjalan sekitar satu jam dan sepertinya badan saya mulai beradaptasi. Tak lama berjalan sampailah kami di pos 1 pendakian. Ada beberapa pendaki yang istirahat di sini, terlihat bekas bagunan dari atap seng yang sudah mulai roboh. Hanya 5 menit kami mengatur nafas perjalan dilanjutkan. Setelah Pos saut ini jalannya sedikit datar bahkan kemudian sedikit turun sampai ketemu dengan sebuah jembatan dari pohon pinus. Oh ya,… ‘suasana dan vegetasi dari pos  ini sangatlah berbeda dengan keadaan sekarang, dulu sampai di pos 2 masih berupa ladang tembakau. Setelah 2006 baru perhutani melakukan penertipan dan diganti dengan cemara dan pinus.

Sampai di pos 2 kami berhenti setelah berjalan kurang dari 2 jam, ada satu kelompok yang bareng istirahat dengan kami. Dan uniknya, mereka masih juga sempat bawa gitar. Mbendol yang sok musisi akhirnya meminjam gitar dan memainkan beberapa lagu. Ga kebayang itu jari buat main gitar seperti apa rasanya diadu dengan senar. Dan setelah cukup beristirahat kami pun melanjutkan perjalalan.

Udara makin dingin dengan jalan yang semakin terjal. Hanya beberapa menit berjalan tanaman tembakau sudah mulai menghilang digantikan tanaman sejenis dengan lamtoro yang tidak begitu rapat. Angin terasa semakin kencang meniup badan yang basah oleh keringat, rumput-rumput yang terlewati juga rasanya mulai basah oleh embun. Sekitar pukul 10 malam (kira-kira) kami sampai di pos 3.

Pos ini hanya sebuah tempat yang sedikit luas kira-kira hanya muat tenda sekitar 3.-4 kapasitas 2-3 orang. Angin terasa begitu kencang di tempat yang sangat terbuka ini. Wajah teman-teman sudha terlihat begitu lelah, terutama gempong yang sudah berulang kali minta berhenti untuk ngecamp. Tapi karena si Leader pengen terus jalan ya akhirnya di pos 3 ini hanya sekedar istirahat sebentar. Dan disinilah, singkong dari emak menjadi terasa istimewa, lapar yang sudah sangat kronis bisa disembuhkan dengan beberapa potong singkong hehe…

Jalan setelah pos 3 ini ternyata semakin menanjak saja dengan tanah yang bercampur dengan kerikil. Dibeberapa tempat yang bisa untuk intirahat sudah dipakai oleh teman-teman pendaki yang lain. Kami hanya berjalan sambil berharap ada tempat yang sedikit luas di sebelah atas. Sampailah kami ditempat yang sedikit terbuka, tempat ini bernama watu tatah yang namanya baru saya tahu pada pendakian selanjutnya. Namun karena angin yang kencang kami memilih untuk mencari tempat disebelah atasnya lagi.

Dan akhirnya, ketemu juga tempat yang sedikit strategis. Sebuah tanah yang datar dengan lereng yang bisa menangkal angin. Tentu karena kami tidak bawa tenda. Oh ya.. waktu itu memang masih jarang saya lihat pendaki bawa tenda. Kebanyakan pendaki-pendaki hanya tek-tok malam (malam naik pagi turun). Kami hanya buat bivak dari mantol dan matras sebagai alas. Tidak terbayang seperti apa rasanya kalau sekarang seperti itu. Setelah masak minuman susu hangat kami langsung tidur karena rasannya badan sudah sangat capek sekali. Meski, dibilang tidur ya tidak … dibilang tidak ya tidur… lha tiap ada angin yang bertiup kaki sama telinga rasanya seperti disiram air es brrrrrrrr…

Kurang dari jam 4  pagi kami bangun dan langsung masak mie untuk mengganjal perut, meski justru rasanya diperut terasa bikin mua. Selesai makan kami segera bersiap untuk ke puncak ketika bersamaan dengan matahari yang sudah mulai muncul di ujung timur, meski sinarnya belum cukup menghangatkan badan yang sudah seperti es.

Awal berjalan rasanya begitu berat sekali. Dengan tubuh yang masih kedinginan, mungkin itu pertama kalinya saya berada di tempat yang begitu dingin. Tidak ada hujan ketika itu namun rumput dan tanah begitu basah, mungkin karena embuh yang teramat banyak hingga membuat tanah menjadi basah. Dan kaos kaki yang awalnya niatnya buat menghangatkan kaki ikutan jadi basah. Tapi itu tidak masalah, yang penting terus saja berjalan, saya begitu penasaran dengan puncak Gunung yang sudah berjalan semalaman tidak sampai-sampai puncaknya ini.

Terlihat didepan puncak gunungnya sudah tidak jauh lagi, saya terus saja berjalan hingga… saya sadar bahwa itu hanya semacam tipuan mata saja. Puncak bayangan yang entah ada berapa yang saya sangka puncak. Setelah berkali-kali tertipu dengan puncak bayangan, Akhirnya ada pemandangan yang berbeda terlihat didepan, hamparan tumbuhan yang lebat dengan bunga putih kecoklatan… saya diberi tahu bahwa itu adalah padang edelweisnya Gunung Sindoro. Edelweis, bungan yang katanya abadi itu ternyata tumbuh dengan subur sekali di sebuah gunung yang gersang. Memasuki padang edelweis, hal pertama yang begitu membekas hingga saat ini adalah aromanya yang khas.

Tak lama melewati padang edelweis samar terdengar orang-orang berteriak ada juga yang ketawa-ketawa. Saya terus saja melangkah di jalan yang sudah didominasi dengan batuan itu. Kaki rasanya sudah lemes tidak ada tenaga, tapi enggan juga untuk berhenti. Hingga tanpa sadar sudah terlihat beberapa orang pendaki yang sudah berada di depan. Beberapa orang menyambut saya yang bahkan tidak kenal, memberi selamat. Katanya saya sudah sampai di puncak… seperti tidak percaya… saya melihat sekeliling untuk memastikannya. Dan ternyata memang sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi… inilah puncak…

Sekejap saja rasanya lelah hilang… bener seperti bayangan ketika TK, Gunung Berapi itu lancip dengan puncaknya ada kaldera seperti kolam… hehe… saya tidak banyak berjalan kesana-kemari. Badan rasanya lemas dan tidak ada tenaga, dingin sekali rasanya, gejala yang belakangan baru tau kalau itu tandanya sedang terserang kelaparan

Sambil masak-masak kami beberapa kali ambil foto… tentu minus gempong yang memilih tidur daripada harus capek-capek ke puncak. Mungkin tidak sampai satu jam kami berada di puncak ketika itu. Mengingat kami tidak boleh terlalu sore sampai di basecamp. Karena jika terlalu sore akan sulit mencari bus dari Magelang ke Jogja. Dan jika tidak dapat bus kami juga tidak bisa untuk berangkat sekolah hari seninnya.

Perjalanan turun ternyata tidak semudah yang dibayangkan, sangat terasa sekali di sendi-sendi kaki, mana jalannya tidak ada datarnya sama sekali. Sebagai pelepas lelah kami sesekali berhenti untuk mengambil beberapa foto, tegaknya Gunung Sumbing menjadi background foto yang sangat indah. Sekitar tiga sampai empat jam kami berjalan dan akhirnya sampai juga di perkampungan, kita hanya bersih-bersih dan langsung menunggu bus yang akan kami naiki untuk menuju magelang. Dan berakhirlah cerita pertama kali saya menggapai puncak, Gunung Sindoro dengan ketinggiannya 3153 MDPL. Sebuah Gunung yang tidak favorit dan bahkan terbilang tidak ramai, namun buat saya itu adalah gunung yang sangat memberi kesan yang begitu terasa sampai saat ini. (kcng)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.