“Sing for absolution”

“Sing for absolution”

… Sing for absolution,
I will be singing
And falling from your grace…  

Tidak ada hubungannya antara makna bait lagu di atas dengan cerita yang ada di bawah ini ! 
 
Entah sudah berapa lama playlist di laptop tidak memutar lagu ini… bukan karena saking banyaknnya lagu, tapi emang karena jarang muter lagu aja belakangan ini hehehe… Sekalinya pengen dengerin lagu, langsung pas pada Sing for absolution-nya Muse. Seperti telah ditulis di atas, sama sekali tidak ada hubungan secara maknawi antara lagu dan cerita ini haha…hanya saja karena lagu ini saya jadi kepingin nulis cerita … 
 
Ini cerita tentang pendakian saya yang pertama kali ke Gunung Ungaran. Walau faktanya, saya  pernah naik ke gunung ini meskipun hanya sampai di Candi Gedong Songo he.. he.. tapi yang bikin saya penasaran dari gunung ini adalah cerita tentang Kebun teh yang luas dan kampung Promasan yang ada ditengah-tengahnnya. Dan karena sudah bingung mau naik mana lagi, diputuskanlah saya bersama teman saya dari Yogyakarta menuju ke Gunung ungaran. 
 
Karena ada teman yang tinggal di sekitar semarang maka kami meminta dia ikut serta dalam pendakian ini. karena jadwalnya yang sedikit padat sangat sulit kami mengatur waktu untuk janjian. Dan akhirnya, kami berdua yang dari Jogja nekat saja menuju ke basecamp mawar. Dengan Google sebagai navigator kami bisa sampai di pasar Jimbaran dan berniat langsung menuju ke basecamp mawar setelah berbelanja sedikit bekal di pasar ini. 
 
Katanya sih ada 2 jalur untuk menuju ke BC (basecamp) mawar. pertama Bisa lewat Umbul sidomukti, jalur ini ramai karena menjadi jalan utama menuju kolam sidomukti, kolam renang dengan mata air alami. Yang ke-2 saya tidak tau namanya, ini seperti potong kompas melalui ladang penduduk. Dan kami memeilih yang ke-2 ini. 
 
Namanya jalan pintas emang biasanya sedikit extreem. Tanjakan yang sangat panjang akhirnya membuat motor saya sedikit lemas… dan keputusannya kami harus istirahat di tengah perkebunan mawar. weiss.. tapi di sini pemandangan sudah cukup indah… mungkin kalau malam, saya akan langsung buka tenda di ladang ini haha…  dari sini juga bisa liat beberapa orang yang sedang bermain paralayang. Dan sempat kami ambil beberapa gambar. 
dimana yang paralayang ? hehe…
Setelah sholat dzuhur kami langsung menuju ke BC. Ternyata sudah tidak jauh dari tempat kami berhenti tadi. Suasana sudah sangat ramai, beberapa sudah ada yang nenteng carrier. karena kami masih harus menunggu janjian, kami santai-santai aja dulu di sekitar BC. 
 
Setelah bosan ceprat-cepret, saya akhirnya menghubungi teman saya yang dari semarang. Ternyata dia masih di rumah lagi otw… tidak jadi mengapa, toh kita juga tidak buru-buru. Kita makan bakso di sini sambil menunggu. Sempet jalan-jalan juga di sekitar ini… ada satu hal yang dari tadi membuat penasaran… sebuah jembatan yang melewati atas BC, saya perhatikan terus sampai akhirnya saya paham kalo itu adalah jalur downhill. Sayang sore itu tidak ada yang menggunakannya. 
 
Tiba-tiba telpon bunyi…. dan teman saya yang bernama fuad itu ternyata sudah sampai di warung kopi deket bumi perkemahan.. wow… kenapa bisa tidak liat tadi ya ? hmm langsung saja kami berdua registrasi. Nah di sini baru rasa penasaran saya di jalan semarang terjawab. Jadi waktu di jalan raya sekitar ambarawa tadi kami lihat ada kepulan asap di puncak gunung ungaran. Dan ternyata memang ada kebakaran di atas sana. Jadi kami hanya diperbolehkan camp di kebun teh. 
 
Sesaat kemudian kami langsung saja menuju warung kopi di sekitar bumi perkemaahan . Dan lengkap sudah anggota pendakian kali ini menjadi 4 orang. Kami memulai perjalanan sekitar 5:15PM. Sudah mirip seperti orang mau naik gunung, bawa carrier gedhe2 padahal isinya Cuma tenda haha…Pepohonan pinus yang baru sekitar 3 meteran menjadi pemanis awal perjalanan. Tapi ya itu, namanya juga musim kemarau, jalannya penuh debu. 
 
Setelah pos 1 matahari sudah berangsur tenggelam dan kami teruskan saja berjalan. Baru setelh beberapa lama memasuki hutan pegunungan dengan ciri pohon-pohon tuanya, kegelapan sudah menyelimuti kami hehe… nah di sini saya penasaran dengan suara gemericik air. Berhubung gelap ya udah jalan aja lagi… dari sini nih, jalanan udah mulai menanjak. Beberapa kali kami juga bertemu dengan rombongan yang mau turun. Katanya sih didepan sudah ramai sama pendaki. 
 
Setelah cukup lama berjalan suara ramai semakin dekat di depan kami. beberapa cahaya senter terlihat meski setelah saya amati ternyata itu lampu motor setelah suaranya kedengeran., . hmmm ternyata ada jalan yang bisa dilalui motor… cuman, katanya motor hanya bisa sampai di promasan. Menurut info, ketika itu di promasan sedang ada event musik gitu… dan di tempat yang banyak suara orang tadi ternyata adalah sebuah kolam yang entah namanya apa. menurutku sih mirip sama kolam ikan tapi bisa juga dipake kolam renang… di sini ada banyak sekali air bisa buat ngisi persediaan atau juga cuci-cuci. Sambil istirahat kami sholat maghrib dulu di sini. 
 
Setelah beres… lanjut lagi menuju ke kebun teh… jalanan dari kolam menuju kebun teh ini relatif datar ! sama sekali bukan masalah… masalahnya adalah debu yang beterbangan itu.. bener-bener bikin males… apalagi kalo yang jalan di depan kurang hati-hati. Beberapa pengendara motor sempat beberapa kali mendahului kami.. nah ini… meskipun mereka nggak sengaja tapi tetep aja debunya itu.. ah tapi cuek aja… terus jalan sampai ke kebun teh… 
 
Sampai di kebun teh, pandangan perama kali tertuju pada kampung promasan…. wuih bener-bener ada di tengah kebun teh… ketika itu sangat ramai dan sayup-sayup terdengar alunan musik. Kampungnya sendiri mungkin hanya ada beberapa keluarga yang mendiami. Konon kampung ini sudah ada sejak jaman belanda. Mereka yang bekerja di perkebunan teh mulai mendirikan tempat tinggal untuk mempermudah kegiatan mereka. 
 
Karena kami tidak berencana ke promasan maka kami mengambil jalur ke arah kiri.. nah baru ingat di sini kalau ini adalah tempat camp terakhir kami. Namun sayang, tempat-tempat yang strategis sudah didiami sama temen-temen yang lain. Bahkan, ada yang sampai nekad ngediriin tenda di jalan.. headeuh.. ya udah lah kami mencari tempat lain sedikit di atas kebun teh. 
 
Setelah melihat ke sana-sini diputuskanlah tempat kami akan mendirikan tenda. tempatnya lumayan luas untuk 2 tenda. meski tidak istimewa. Cepat saja kami mendirikan tenda dan langsung masak sambil ngobrol, ngobrol… dan setelah itu tidur hehe… oh ya… sebelum tidur saya sempat memaksa mau bikin foto. Saya aja tripod yang udah berat-berat dibawa ga kepake.. meski sebenernya pesimis karena bulan lagi terang-terangnya. Dan benar saja semua foto tidak ada yang seperti  diharapkan… wes tidur……mungkin sekitar jam 10 malam …
 

Jam 3.45 pagi terbangun, …sambil masak air… saya masih mencoba berkreasi dengan kamera. In karena sepertinya pemandangan kota semarang dengan lampunya yang kerlap-kerlip sedikit keliatan bagus. Ini juga daripada tripod tidak kepake hehe…

Semarang 

Tak selang berapa lama teman-teman sudah pada bangun…  singkatnya kami minum kopi hangat, teh hangat dan makan roti. Habis itu kita bertiga berangkat ke puncak. Selain kami ternyata sudah banyak sekali teman-teman yang menuju ke puncak… lagi.. lagi dan lagi… rasa debu di lidah kembali ! inilah kenapa teman saya yang satu lagi mending jagain tenda. meski sudah jalan pelan-pelan, karena saking tebalnya debu-debu itu tetep aja menjadi sapaan bagi yang dibelakang… yah kami hanya harus jaga jarak dari yagn didepan… tapi karena saking seringnya seperti ini kok rasanya malah jadi ngantuk… males rasanya mau ke puncak… tapi teman saya tidak kurang akal. dia memutar playlist di Hp nya… pas dengerin Sing for Absolution… hah… berangsur ngantuknya sedikit ilang… 

 
Lanjut lagi perjalanannya… hanya beberapa menit saja pemendangan di depan sudah mulai berubah sedikit terbuka dengan tebing-tebing batu… aroma habis kebakaran tercium sedikit menyengat. Tapi ada juga beberapa tenda yang berdiri di sini… entah pos berapa saya lupa tempat luas pertama yang kami temui ini, mungkin pos 3. Dari sini kerlap-kerlip kota semarang dapat terlihat, kampung pemetik teh promasan juga tak kalah indah. 
 
Dan… 5:15 pagi kami sudah sampai di puncak.. atau mungkin deketnya puncak… hehe karena melihat di puncak terlalu ramai kami memilih untuk sedikit bergerser. Dan ternyata memang itu tempat yang lebih bagus untuk menanti sunrise… meski ya… sunrise pagi itu tidak begitu indah… tapi ndak apalah… sunrise ya tetep sunrise… beberapa gambar diambil… ceprat-cepret wes kaya postograper beneran… 
 
lapak sudah penuh 🙁

Pas udah mulai terang kami baru ke puncak… ah… tapi bingung mau ngapain …. lapak sudah habis… mendingan turun saja … sudah terpenuhi juga penasarannya. Kami akhirnya mulai turun untuk kembali ke tempat camp. Disepanjang jalan juga sempet ceprat-cepret lagi… dan baru kini nampak jelas bekas kebakarannya…

bekas kebakaran 😀

Langsung aja saya skip kegiatan setelah sampai di tenda… Cuma kegiatan standart aja… masak, sarapan,… bongkar tenda.. packing dan.. melanjutkan perjalanan pulang… 

 
Kebun teh… 

Yang pertama saya lihat dari kebun ini adalah… hijau.. ahaha… mau apalagi ? ….pengennya sih ngliat kegiatan para pemetik teh. Tapi entah kenapa itu para pemetik itu tidak menampakkan diri ya. Katanya sih pagi-siang adalah waktu mereka metik teh. Mungkin saja mereka memetik dibalik bukit atau di tempat lain… tapi bisa juga kecapekan karena semalem joget hehehe…

kebun Teh 
 
Promasan 

Kebun Kopi 

Jangan salah,.. selain teh yang sudah terkenal, di gunung ungaran ini juga terdapat kebun kopi. Kebun kopi ini letaknya dipinggiran sebelah timur hampir berbatasan dengan hutan. Sayang saya juga tidak bisa mendapatkan info mengenai kopi ini lebih lanjut…

Kopi 😛
 
Dan setelah itu kami berjalan pulang karena hari semakin panas… 
 
Nah spot berikutnya ini sedikit menarik…  Pancuran… 

Gemericik air semalem itu ternyata ketika siang berubah menjadi pemandian umum para pendaki. Sepertinya seger banget mandi… hmm tapi mending ga usah… biasanya kalau habis mandi jadi ngantuk… bahaya kalo nanti naik motornya sambil tidur. Hehe…

cuci-cuci… mandi-mandi
Dan ,… perjalanan berakhir dengan sampai ke basecamp mawar… masih berdiri beberapa tenda diantara pohon pinus… terlihat pecinta Downhill beraksi di trek yang tidak jauh dari basecamp….
 
Hari mulai panas… kami akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari Basecamp Mawar… 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.