Sumbing lagi… Bowongso lagi…

Sumbing lagi… Bowongso lagi…

Gunung sumbing lagi ?… ya …karena Terakhir kali ke Gunung Sumbing baru beberapa bulan yang lalu. Apa tidak bosan ? Seperti yang sering kali saya bilang.

“jalan boleh sama tapi suasana akan selalu berubah”

Kalau kita hanya melulu melihat fisik tentu rasa bosan, jenuh itu pasti cepat sekali datang. Ah… jalur yang itu pernah saya lewati, Pemandangannya pasti seperti itu atau sebagainya. Itulah yang pernah saya rasakan ketika dulu awal-awal munggah Gunung”. Butuh waktu lama hingga akhirnya bisa menemukan sesuatu yang dicari selain sekedar pemandangan dan foto.

Berawal dari seorang teman yang pengen naik ke sumbing dan diantara mereka sama sekali belum pernah ada yang naik ke Sumbing. Akhirnya ditariklah saya ke dalamnya. “Yang penting ke Sumbing” kata mereka, dan bisa saja saya ngajak jalan yang lain. bisa saja lewat Garung, Banaran atau lewat kaliangkrik. Tapi menurut saya jalur bowongso ini yang paling dekat diakses dari Jogja… eh… kaliangkrik lebih dekat sepertinya. Tapi karena lewat kaliangkrik saya sedikit tidak PD kalau harus nanjak malam-malam. Ditambah, beberapa ada yang baru pertama kalinya naik Gunung. Akhirnya ya jalur bowongso.

Asyiknya kali ini kita naiknya rencana hari kamis. Sudah kebayang gunungnya gak bakalan seramai kalau Hari sabtu. Ya bukannya ga suka kalau pas ramai, cuman kadang terlalu ramai di Bowongso itu nanti sedikit susah nyari tempat ngecamp yang enak. Pos 1 dan pos 2 cukup lebar untuk tempat tenda tapi jaraknya sama puncak masih jauh, bahkan setengah perjalanan saja belum.

Kita janjian kamis malam bakda maghrib ketemuan di sebuah persimpangan menuju ke Magelang. Dan sesuai rencana saya dateng ke tempat kumpul yang sudah dijanjikan. Namun sampai azan isyak tak juga keliatan teman saya dan rombongan. Dan pesan masuk bilang untuk nunggu sebentar.

Sampai sepuluh lembar habis saya baca buku kesayangan dan mereka belum dateng juga. ya tetep nyantai aja wong yang mau naik itu mereka, saya kan Cuma numpang. Tapi karena sampai jam 8 lebih belum kumpul juga maka perlu dipikirkan rencana cadangan. Sepertinya kalau sampai basecamp langsung nanjak ya kurang nyaman. Rencana terburuknya adalah menambah satu hari.

Dan satu jam berlalu salah dua dari mereka datang dengan minta maaf karena membuat saya menunggu. Takut kalau saya marah mungkin, padahal saya jarang marah kecuali kalau lagi  kelaparan 😀 , kenalan bla.. bla dan satu persatu rombongan hadir. Tak ada yang ditunggu lagi kamipun segera meluncur menuju bowongso.

Butuh waktu sekitar 2 jam kurang lebih sampai bowongso kalau sudah hafal jalan, dan jalannya sepi. Tapi ya.. karena belum pernah ada yang lewat kita Cuma jalan dengan kecepatan sedang. Jalur dari magelang sampai bowongso yang lewat Kepil itu banyak tikungannya daripada yang lurus. Jadi mending pelan-pelan, lagian kan tidak akan lari gunung dikejar!

Jalur berkelok-kelok yang cukup membuat kepala pusing habis,  bertemu jalan Purworejo-Wonosobo. meski sempet gerimis tapi kami masih kering-kering saja. dan tampaknya semua kompak pengen berhenti karena perut juga terasa lapar.

Cari warung makan kok kayaknya sudah susah malem itu, untung ada satu orang yang bawa makanan. Namanya arem-arem ! entah namanya apa kalau di tempat lain. dan ini spesial, besarnya hampir sebesar lengan haha…. Makan satu saja perut sudah penuh.

Dan sambil makan yang namanya arem-arem kita sambil membahas rencana. Point-nya adalah kalau kita berencana mulai naik pada pagi harinya saja. namun karena resikonya adalah jadwal yang mundur jadi semua harus setuju. masalahnya itu, hari sabtu ada yang berangkat kerja. Namun akhirnya semua setuju.

Beberapa putaran roda berlalu dan desa Bowongso sudah terlihat dari kejauhan. Eh… kok sepi banget, ya jelas, mungkin sudah jam 12 malem kami sampai di Bowongso. Hampir tidak ada orang yang terlihat berjalan malam itu. saya langsung ke basecamp dan sueeepi sekali. basecamp sendiri sedikit kotor dan aromanya seperti aneh-aneh gimana tapi tidaklah masalah kami keluarkan SB dan langsung tidur.

Setelah bangun di pagi harinya, barulah saya tahu ternyata basecamp sudah pindah ke tempat yang baru. Jadi kalau ada yang mau ke sana basecamp sekarang ada di SD setelah lapangan Bola. Setelah makan dan mandi eh… lupa saya, mandi atau tidak pagi itu. setelah menyantap nasi goreng kami baru ke basecamp.

Entah ini memang basecamp atau ruang kelas yang tidak terpakai. Singkatnya ada beberapa perbedaan dengan ketika saya pertama ke Bowongso. Pertama tentu pindah tempat. Yang kedua adalah transportasi – untuk sekarang transportasi menggunakan motor. Dan yang ketiga kita dikasih bekal khusus dari basecamp.

Kalau saya seneng basecamp yang lama, karena di sana kamar mandinya banyak :D. basecamp barunya kamar mandinya jauh dan baru ada dua. Ya kalau pas lagi sepi sih tidak ada masalah.

Transportasi
Kenapa kita butuh transportasi ? karena untuk menuju ke pintu hutannya, dari basecamp masih sekitar 2 kilometer. Ya tidak masalah kalau mau jalan, tapi harus super-super sabar. Ini alasan kita tidak langsung nanjak malam hari langsung. 2 kilometer itu deket kalau tidak pakai nanjak 😀

Dulu transportasi kebanyakan pakai pickup yang bisa kita sewa beramai-ramai. tapi sekarang pickup sudah ditiadakan untuk pendaki menurut UU yang baru. Demi pemerataan, semua pendaki diangkut pakai ojek motor semua. Tapi kita tidak perlu capek2 nyari sendiri. orang basecamp sudah ngurusin ini semua kita tinggal nangkring aja.

Santan Gula Merah
Kita dikasih bekal khusus dari basecamp berupa santan dan Gula Merah. Sudah dibungkus rapi dalam plastik. Jangan dibayangin es kelapa muda, ini jauh beda dan hanya dibungkus pakai plastik-plastik kecil. Untuk apakah itu ? saya tidak terlalu ngorek-ngorek masalah ini. saya Cuma nanya dimana harus dibawa.

HT
Alat satu ini sangat bermanfaat untuk komunikasi apalagi di Gunung. Dan mungkin karena sekarang sangat mudah dan banyak HT murah, basecamp-basecamp gunung sekarang sudah membekali para pendaki dengan HT. ketika naik sebelum ini saya masih bawa HT sendiri.

Satu persatu motor yang membawa teman-teman saya melaju ke parkir Swadas. Dan saya berada di urutan paling belakang. Dan kalau boleh bandingin sih enakan naik pickup. Selain gak terlalu ngerasain bagaimana beradunya ban ketemu sama batu. Kita bisa sambil bercanda sama temen-temen.

Motor orang sana dan kebanyakan yang digunung itu hebat-hebat. Ya itu anggapan kita saja sebenernya. Si bapak ojek itu dijalan sambil cerita, motor di sana itu perawatannya hampir dua kali perawatan di medan perkotaan. Ban motor bisa satu atau dua bulan sekali ganti. Shock breaker atau shock absorber bisa 6 bulan sekali ganti. Belum lagi kalau motor minta turun mesin.

Lengkap semua di parkir Swadas kami langsung naik menuju ke gardu pandang. Jaraknya sih tidak terlalu jauh… mungkin sekitar sepuluh menit sampai. Apa yang bisa dilihat dari gardu pandang ini ? tentunya adalah perbukitan tembakau. Tapi kita tidak berlama-lama di gardu pandang lha wong lewat masuk saja tidak.

Kita langsung naik karena mungkin sudah jam 9 lebih atau malah jam sepuluh. Beberapa langkah kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cem… eh..  tembakau. Seinget saya jarak dari gardu pandang sampai pos 1 yang dikasih nama Taman Asmara itu tidaklah jauh. Tapi entah kenapa rasanya kok tidak sampai-sampai. Atau mungkin karena suasananya yang sedikit beda. Dan ternyata bener, mungkin karena musim kemarau jadi rerumputan tidak serimbun musim hujan. Dan satu hal ini kok dideket pos 1 berjejer rapi taneman tembakau. Apa emang boleh atau bagaimana orang nanem tembakau di hutan ini ?.

Bahkan sampai beberapa lengkah kedepan masih ada beberapa batang tembakau, meski nyelip disela-sela pohon lamtoro. Jadi keinget Sindoro jaman dulu. Berjalan sampai pos 2 masih kiri-kanan taneman tembakau. Usut punya usut ternyata masyarakat sekitar memang nanem tembakau di lahannya perhutani. Kini setelah ditertipkan pihak perhutani berubahlah jadi lahan pinus dan lamtoro.

Kembali lagi, beberapa langkah berjalan dan … sudah ada yang sambat (mengeluh,- ) lututnya mau copot… hahaha… entah ini mungkin kurang cairan atau bagaimana. Tapi ya tidak masalah didepan sudah kelihatan camp plalangan, istirahat sebentar tidak jadi masalah.

Memang paling enak itu kalau jalannya pelan-pelan tapi berhentinya jangan sering-sering… jalannya bisa sambil becandaan. Dan tidak terasa sudah sampai tujuan.

Sehabis camp plalangan itu jalannya sedikit nanjak. Banyak ranting yang kadang mengganggu jalan meski mudah untuk disingkirkan. Beberapa kali kami berhenti sambil ngrasain perut kok ya sudah mulai keroncongan. Untunglah, ada yang dari rumah sudah siap tempur. Ada telo godhog.. ubi rebus.. ehh… atau kentang ya .. ah kalau di sana yang penting bisa dimakan mana urus mau ubi… telo atau kentang…

Tapi percayalah,… 😀 namanya telo atau sebangsanya yang akarnya bisa dimakan itu, jauh lebih bertenaga daripada sepanjang jalan nyemil biskuit tidak jelas apalagi keripik yang bikin boros air. ya memang bawaan jadi sedikit berat sih. Tapi nanti ya di jalan habis sendiri.

Beneran berkat tenaga telo, aroma pos 2 sudah tercium. Saya masih ingat dulu sampai di pos 2 itu sudah basah luar dalam… tempat yang nyaman untuk istirahat itu sebernernya malah diatasnya sumber air sebelum pos 2. kalau di Camp Bogel itu panas… ini sudah jam 12 siang.. jadi ya kita rehatnya di deket sumber air.

Sumber air jangan dibayangkan seperti ini….

Air – Sumbing Kaliangkrik

Di jalur bowongso ini sumber airnya sekedar buat jaga-jaga saja. jadi kalau ke sini ya air minumnya bawa aja dari bawah. Karena apa, kalau kemarau cuma sedikit dan kalau musim hujan sedikit keruh.

Dan… saat itu hari jum’at.. karena berkewajiban sholat jum’at maka saya ngajak mereka buat jumatan… nggak usah nanya sah dan tidaknya !! kata pak ustadz, daripada tidak sama sekali, mending lakukan sebisannya. Ini lebih sempurna daripada ketika saya Jum’atan ketika di Lawu. Tapi semuanya beralasan, celananya ada di dalem carrier.. sarungnya ketinggalan dan macem-macem.. untung tidak ada yang alesan kalau lagi dateng bulan…

Dan setelah saya sholat perjalanan dilanjutkan… setelah inilah mata akan dimanjakan dengan sabanannya jalur ini. Pos Bogel berhenti sebentar foto-foto. Maklum dari mulai jalan pagi tadi nemunya Cuma pohon tembakau sama lamtoro.

Nah kan beda… sekarang warna mayoritas sekitar kami coklat kekuningan sangat kontras ketika dulu naik pas musim hujan. Bagus yang mana ? sama aja sih sebenernya… pengennya itu sabananya luasss dan hijau tapi tidak kehujanan…. Atau warnanya kuning kemerahan seperti musim gugurnya di eropa tapi tidak berdebu… jadi… ?

Memang sih mata kita nyaman memandang ke mana saja,.. tapi ya panasnya itu juga langsung ke kulit. Itulah tidak enaknya naik siang-siang. Tapi karena siang itu jalurnya kita monopoli ya cukup lebih nyaman daripada kalau jalur ramai penuh debu.

Dan semua anggota sudah bertanya, di mana kita akan berhenti ? ya… ada diujung jalan ini. mungkin sepanjang yang dilewati tadi ini yang paling berat dan menjemukan. Panas masih terasa Meski berkabut tipis.. tanjakannya lumayan terjal meski tidak terlalu panjang. menurutku ini mirip tanjakan sebelum pos 3 Merbabu jalur Selo.

Dan sampailah kita di camp Gajahan. Ini adalah tempat luas terakhir di jalur Bowongso. Kalau naiknya ramai-ramai mending langsung pasang tenda saja. sesudah ini, di pos 3 hanya muat satu atau dua saja dan itupun sedikit kurang nyaman. Jadi ketika kami sampai ya.. langsung bongkar carrier, pasang tenda, Masak… dan makan… tanpa lupa ngopi.

Jam 3 lewat ketika kami bersiap-siap untuk menuju ke puncak. Ya.. sepanjang sejarah baru kali ini summit attack sesiang ini. meski sudah cukup lama kita istirahat, namun namanya pegel di kaki itu pasti tidak hilang secepat makan indomie. Berapa jarak dari camp gajahan sampai puncak ? ketika saya ditannya itu saya hanya bilang, puncaknya ada disebelah sana ! ya.. karena memang gak tahu jarak pastinya. Tau pasti juga gak ngaruh sama lutut 😀

Sekiloan lebih,… mungkin hampir 1,5 kilometer saya ingat dipertengahan jalan antara camp gajahan sama pos 3. Dilihat gontainya mereka berjalan sudah tentu semuanya lelah. Entah mengapa saya sendiri juga ngerasain lelah. Tapi wajar karena sudah berjalan sekitar 4-5 jam.

Pos 3 dulu hanya sebuah pohon cantigi dengan plat nama. Dibawahnya mungkin satu atau dua tenda bisa muat. Tapi kok saya rasa-rasakan tidak ketemu juga ini pos. tahu-tahu puncak sudah kelihatan. Mungkin karena saking banyaknya pohon cantigi.

Sunset…
Jam 5 lewat kami juga belum sampai di puncak.. awan dibawah kami mulai kemerahan. Nampaknya matahari sudah bergeser turun sedikit demi sedikit. Untuk sesaat kami menikmatinya sambil ambil nafas…

Puncak..
Siangnya lebih lama daripada di dataran normal … di puncak Gunung itu siangnya lebih panjang. pagi akan lebih cepat terkena sinar matahari dan sore akan lebih lama kena sinar matahari. Hampir jam enam dan lumayan bisa melihat sekitar. Dan di sana juga sepi sekaliiiiii…. Bahkan dipuncak buntu juga tidak terdengar apalagi kelihatan ada orang.

Karena sudah masuk maghrib saya sempatkan sekalian untuk sholat. Air yang saya siapkan cukup untuk wudhu. Sholat selesai dan … gelap sudah benar-benar sampai di puncak, tapi entah apa ada sesuatu di mata saya dan sedikit rasa pusing di kepala. Dan setelah keinget, saya melepas kacamata sebelum sholat tadi.

Di mana kacamata…
Bingung nyari sana kemari … tanya semua orang yang ada… akhirnya kacamata saya temukan dengan keadaan yang sudah hampir hancur… siapa pelakunya… saya sendiri !! arggghh… sambil mondar-mandir tadi ternyata saya menginjak-injak kacamata tanpa terasa… meski lensanya masih bisa dipakai tapi framenya sudah patah…

Tak lama kami semua turun… ya.. turun malam-malam itu sangat beda sana siang. Kalau orang naik cenderung jalannya pelan, kalau turun orang cenderung terlalu cepat dan karena gelap.. kadang batu-batu tidak stabil juga kita injek… keprosok lah…

Turun malem-malem tanpa kacamata ternyata sangat tidak nyaman. Ya memang saya kadang seharian tidak pakai kacamata. Tapi ada syaratnya, kalau lelah ya langsung pejamkan mata. Kali ini ya tidak bisa. Harus sampai di tenda dulu baru merem… sesekali jalan terasa begitu hitam entah senter yang mati atau mata saya yang sudah tidak kuat nahan capeknya.

Meski sambil menahan pusing, akhirnya sampai juga di camp gajahan. sebelum ke puncak hanya satu tenda saja yang kami pasang. Jadi harus pasang lagi… setelah itu masak,.. dan seingat saya, ketika mereka masak saya sudah merem di dalam tenda…

Entah apa yang mereka makan tapi saya sempet dibangunin untuk makan dan … saya hanya makan sedikit lalu melanjutkan tidur… bener-bener mata sudah berat banget. Pagi itu kami tidak bisa berlama-lama karena semuanya harus berada di Jogja siangnya.

Tengah malam terbangun… wajar karena mungkin sudah tidur selama 2 jam. Dan saya sempet bikin makanan.. bikin teh dan jalan-jalan karena saking bingungnya mau ngapain… mungkin  jam 2 malam saya kembali masuk tenda melanjutkan tidur.

Jam 5 terbangun… kemudian keluar liat sunrise… eh… keliatan-kah ? lupa, tapi tidak ada bekas foto sunrise di sini dan tandanya pagi itu terlalu malas untuk foto-foto.

Karena siangnya itu anak-anak harus berada di jogja kami segera saja beres-beres. Meski perjalanan turun tinggal didepan mata, namun lebih baik sedikit lebih awal kami jalan. Sekejap saja sampai di pos 2 dan sudah mulai bertemu dengan pendaki yang mau menuju ke Puncak.

Sampai di gardu pandang ternyata suasana sudah sangat ramai. mungkin lebih dari 4 kelompok yang akan naik pada siang itu. maklum saja, hari sabtu kan jadi hari favoritnya para pendaki. Dan sampai di parkir swadas kami beberapa motor kami bisa langsung naik yang kosong… hanya seperlunya saja kami di basecamp.. sebelum jalanan terlalu macet kami segera turun meski nyatanya di jalan purworejo tengah dipakai orang Karnaval…

Dan selesailah cerita ini…

eh lupa… ada videonya… :O

 

 

2 thoughts on “Sumbing lagi… Bowongso lagi…

  • April 21, 2019 at 10:37 am
    Permalink

    nice share. aku juga pernah nanjak sumbing bowongso view sabananya sangat memanjakan mata. tp udah lama sekali sejak terakhir aku kesana. ternyata sekarang ada peraturan baru, termasuk yang gula aren dan santan tadi akhirnya dimakan kah? atau untuk apa?

    Reply
    • April 25, 2019 at 1:49 am
      Permalink

      ini yang kelupaan… tidak dimakan, cuma dibawa aja 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.