Terlambat Upacara – Merapi 17-08-2014

Terlambat Upacara – Merapi 17-08-2014
Sebelum ke Gunung Merapi, mungkin ga ada salahnya cerita jaman upacara di masa SMA dulu. Entah apa yang salah dengan upacara bendera. Ketika SMA dulu hal itu menjadi rutinitas hari senin yang terasa begitu membosankan. Kalau diingat-ingat mungkin tidak lebih dari satu jam berdiri diatas lapangan untuk upacara tiap hari senin. Dan memori yang paling melekat adalah bagaimana seringnya saya harus berdiri disamping barisan para guru… ya .. bukan karena dapat tugas atau hal yang membanggakan lainnya, tapi karena sebagai hukuman atas keterlambatan datang pas upacara. Yah tidak setiap senin juga harus berdiri, ada kalanya saya berhasil lompat pagar sekolah dan dapat tempat sembunyi yang nyaman hehe…
Ada satu keinginan ketika itu untuk ikut upacara.. ya upacara 17 Agustus di Pasar Bubrah merapi. tentunya karena rasa penasaran saya sangat ingin ikut upacara di lereng gunung bersama dengan teman-teman pendaki lainnya. Namun sampai lulus SMA keinginan itu belum kesampaian juga. Ada saja acara yang berbenturan ketika malam 17 Agustus tiba yang kebanyakan acara rutin di kampung yang sudah entah dari jaman kapan ya Cuma gitu-gitu aja.
17 Agustus 2014… sebenernya ga ada rencana mau naik pada tanggal ini. karena seminggu sebelumnya sudah dari Sindoro. Ngajak temen sana-sini juga ga ada yang free. dan yah… akhirnya saya pergi sendiri ke Selo. Dan sudah cukup malam saya berangkat ketika itu.
Naik motor dengan carrier di punggung.. menghias jalan Magelang – Boyolali. Tentu hanya dua pendaki yang lewat jalan itu, kalau tidak Gunung Merapi ya GUnung Merbabu.  Dan kalaupun kedua gunung ini padat pendaki sebenernya sudah tidak mengejutkan lagi. Jogja, Magelang, Salatiga, Boyolali, Semarang… adalah kota-kota terdekat yang anak mudanya akan memenuhi dua Gunung ini.
Azan maghrib terdengar berbarengan saya tiba di Selo… saya tidak langsung menuju Basecamp, saya menuju ke arah pasar Selo untuk mencari Masjid. Dan masjid yang terdekat sebelum pasar juga sudah dipenuhi dengan para pendaki. Ada yang mau naik Merapi dan ada juga yang mau naik ke Merbabu. setelah sholat maghrib saya melihat ke-arah puncak merapi yang terlihat banyak kunang-kunang yang menuju ke sana. Lampu-lampu batre para pendaki tidak putus dari basecamp hingga pasar bubrah.
Dan seperti perkitaan saya… parkiran sudah sangat penuh. Saya dapat tempat parker sekitar 500 meter dari basecamp. Tapi tidak jadi masalah, saya juga tidak buru-buru mau naik. Mungkin tidur dulu di basecamp sampai tengah malam baru kemudian merangkak naik. Dan… nampaknya saya harus sedikit memodifikasi rencana. Basecamp penuh sesak, jangankan tidur, duduk saja mungkin sudah sangat susah nyari tempatnya.
Dan yah.. sambil nunggu tempat buat bisa tidur saya banyak ngobrol dengan teman-teman yang tak jauh beda nasibnya. Mungkin sekitar jam 11 malam saya baru dapet giliran membaringkan punggung saya yang sudah serasa pegal… itu juga Cuma tidur-tidur ayam.. jam 12 sudah tidak nyaman lagi tidurnya.. akhirnya saya keluar dan nyari makan. Keadaan di jalur menuju puncak masih sama bahkan mungkin malah tambah padat.
Jam 1 pagi saya sudah selesai siap-siap.. daripada jalan sendirian akhirnya saya gabung sama temen-temen yang tadi sama-sama nongkrong di basecamp. Lumayan cukup seru dan temen-temennya juga sangat rame.. Dan jam setengah dua malam kami sudah sampai di New Selo yang juga tak kalah rame dengan basecamp. Mungkin Cuma 5 menit kami berhenti di New Selo dan kami langsung bergabung menjadi kunang-kunang yang menuju ke puncak.
Kami hanya berhenti istirahat di pos saja… sedikit lama mungkin di pos 1. Di pos 2 kami coba untuk mencari tempat untuk tidur karena ada beberapa teman yang sedikit ngantuk. Meski sebenernya nagging sekali karena waktu itu sudah hampir jam 4 pagi. Jalan sedikit lagi mungkin sudah sampai di Watu Gajah. Sesudah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Watu Gajah tak lama kemudian. Dari watu Gajah ini view sudah cukup menarik. Kita bisa melihat Matahari yang mulai muncul. Langit mulai memerah dan awan bergumpal di bawahnya.  Ah sayang rasanya kalau tidak dinikmati sunrise pagi itu.. dan sampai sekarang mungkin saya sudah tidak bisa dapet sunrise seperti itu.
Dan karena keasyikan nikmatin sunrise saya sampai lupa kalau ke Gunung Merapi ini mau ikutan upacara. Tentu kita bikin sarapan dulu, biar nanti pas upacara tidak pingsan. tapi yang jadi masalah adalah, dalam benak saya, kukira upacaranya sama seperti di biasa ditempat lain. dimulai sedikit agak siang sambil nunggu detik-detik proklamasi jam 10 pagi. Jadi, saya baru naik sekitar jam 7 pagi, itu juga nyantai sambil foto kanan-kiri. Sekitar jam setengah 8 pagi saya sampai di pasr bubrah, nampak sebuah bendera merah putih dikelilingi banyak orang. Dan sayup-sayup terdengar mereka menyanyikan Lagu Hari Merdeka… yah terlambat saya ikut upacara…
yah… setidaknya ada sedikit kenangan.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.