Sampah Pendidikan

Cukup mengagetkan memang ketika dulu sempat beredar tentang sampah yang menumpuk di Ranu Kumbolo. Dan kemudian rame-rame di media sosial pada posting gambar-gambar sampah-sampah yang ada di Gunung. pada akhirnya perdebatan dan saling menyalahkan yang terjadi, tapi sebenarnya siapa yang harus disalahkan ?

Sedikit cerita, beberapa hari yang lalu ada seorang teman mampir ke rumah untuk mengantarkan sesuatu. Setelah itu dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol yang pada akhhirnya sampai pada saat dia menceritakan tentang apa yang beberapa hari lalu dialaminya sambil sewot.  
Dia menceritakan kalau beberapa waktu lalu menemukan sebuah tas plastik di pinggir jalan. Dari warnannya yang masih bagus, teman saya mengira itu belanjaan orang yang terjatuh di jalan. Dia ingin memastikan dan mengamankannya, siapa tahu nanti yang punya balik. Tak disangka, bungkusan plastik yang putih bersih itu ternyata hanya berisi sampah.
Di jalan yang dilewati teman saya tadi sangat jarang sekali orang yang sembarangan membuang sampah. Baru kali ini saja hal itu terjadi. Makannya tidak heran teman saya sangat kaget. Dan terbersit ide dalam benaknya. 
Pagi-pagi dia keluar rumah untuk melaksanakan idenya. Maksudnya sih mau nangkep basah pelaku. tapi sepertinya teman saya masih kurang pagi datengnya. Meski begitu dia sempat melihat orang berboncengan sepeda motor yang dengan sangat pede melempar sebuah bungkusan tepat di sebuah parit. Apalagi kalau bukan sampah… 
Buang sampah itu seperti penyakit menular. Ketika orang tahu ada satu tempat yang ada sampahnya, kebanyakan akan ikut-ikutan membuang sampahnya di sana. Apalagi dilakukan oleh orang-orang yang katanya berpendidikan. 
Saya jadi teringat pernah membaca bagaimana cara sebuah sekolah dasar membiasakan siswanya  untuk buang sampah. Sama sekali tidak ada yang berani buang sampah sembarangan. Benar-benar sudah tertanam dalam benak mereka kalau sampah itu tidak boleh dibuang sembarangan.
Mungkin juga pendidikan ditempat kita masing-masing perlu diperhatikan. Apakah sudah ada pelajaran-pelajaran tentang sampah. Bukan hanya pendidikan formal di sekolah yang saya maksud tapi juga di keluarga. karena keluarga inilah yang akan mengisi tentang hal-hal yang tidak diajarkan oleh sekolah. 
Bagaimana dengan di Gunung ?… banyak orang mengamini kalau mendaki Gunung itu bisa memperlihatkan sisi-sisi terdalam dari seseorang. Jadi, menurut saya kalau ada yang masih buang sampah di Gunung itu berarti watak yang sesungguhnya. Atau kebiasaan-kebiasaan yang dia bawa dari rumahnya.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.