Sepeda, Dulu dan Sekarang

Sepeda, Dulu dan Sekarang

Mendaki Gunung adalah aktifitas yang perlu stamina yang bagus, sepeda merupakan salah satu alat yang bagus untuk menjaga stamina. Selain itu bisa sekalian refreshing. Atau mungkin sedikit menyusuri perbukitan.

Pada masanya sepeda pernah menjadi jawara. Yogyakarta dulu juga dikenal dengan nama kota sepeda, pengendara sepeda mendominasi dijalan-jalan sebelum tahun 1990an. Seolah menjadi transportasi utama, di setiap ruas jalan kita temui pengendara sepeda. Bahkan yang melakukan aktivitas sampai 20 Km pun juga menggunakan sepeda. Waktu tempuh tidaklah menjadi masalah, hanya masalah pengaturan waktu.

Salah satu faktor mungkin karena memang kemampuan ekonomi masyarakat yang mana tidak ada pilihan lain dalam memilih transportasi. sebuah cerita dari seorang bapak-bapak yang untuk membeli sepeda pada jaman awal 70an dia harus menjual seekor kerbau. Ada juga cerita lain yang terpaksa menjual tanah tancepan(sewa). Harga kerbau kalau di kurs dengan saat ini berkisar antara 7-10 juta yang kalau sekarang dengan satu kerbau juga sudah cukup untuk membeli sebuah motor.
Transportasi kala itu juga kurang begitu bisa diharapkan atau lebih tepatnya tidak menjangkau daerah-daerah tertentu. Jalanan utama yang menghubungkan dengan pusat kota dan kantor pemerintahan yang sudah terdapat transportasi umum yang memadai. Lain dengan jalan-jalan di pinggiran yang memang kurang menguntungkan bagi perusahaan jasa transportasi. juga karena masyarakatnya yang mayoritas petani dimana mobilitas tidak begitu tinggi, distribusi hasil produksi pertanian juga tidaklah begitu ramai. Maka sepeda menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendukung aktivitasnya.
Banyak sekali jenis sepeda yang digunakan kala itu. Mulai dari produk cina, belanda ataupun jepang banyak ditemui di jalan. Sepeda produk cina sangat mendominasi, memang sejak dulu produk dari negara itu sudah dikenal dengan produk yang sangat ternjangkau bagi mayoritas masyarakat. Sepeda jenis gazelle misalnya dari dulu sudah terkenal dengan sepeda yang mahal dan hanya golongan masyarakat tertentu saja yang mampu untuk membeli sepeda dengan merk ini. masyarakat dengan tingkat ekonomi pas-pasan cenderung menyukai sepeda keluaran cina yang dikenal dengan sepeda jengki.
Akhir tahun 90an sepeda mulai tergerus dengan sepeda motor. Makin padatnya aktivitas dan dengan jarak yang cukup jauh membuat keinginan untuk menggunakan transportasi yang lebih efisien dari sisi energi dan juga waktu. Meskipun masih ditemui juga yang masih menggunakan sepeda  menggunakan sepeda. Saya sendiri sampai SMP masih menggunakan sepeda untuk ke sekolah maupun kegiatan yang lain. Memang sudah ada beberapa anak yang menggunakan sepeda motor ke sekolah namun kebanyakan hanya dipakai ketika ada ekstra kulikuler di sore hari. Itupun tidak bisa di parkir di dalam sekolah karena memang aturan sekolah tidak membolehkan hal itu. Dan juga karena memang usia masih belum memenuhi syarat untuk mendapat surat izin mengemudi.
Tahun 2000 awal  motor sudah mulai mendominasi jalanan. Di jalan raya hanya tingal segelintir saja mereka yang masih menggunakan sepeda. Kredit yang mudah dan ringan menjadikan keinginan untuk mendapatkan sepeda motor. Mereka-mereka yang awalnya tidak tertarikpun akhirnya tergiur juga untuk mengambil kredit. Meski tak jarang beberapa orang yang harus rela motornya ditarik karena tidak bisa melunasi kreditnya.
Pada akhirnya sepedapun seperti lenyap dan terlupakan menjadi barang antik. Hanya mereka yang mempunyai kegiatan dengan jarak tempuh yang tidak terlampau jauh saja yang masih menggunakan sepeda. Banyak sepeda yang dibiarkan berkarat atau dijual menjadi besi bekas. Semua kegiatan kemudian didominasi dengan motor. Bahkan anak-anak sekolah terutama smp yang dulu memadati jalan dengan sepedanya kini sudah tidak ditemui. Mereka lebih memilih menggunakan motor walaupun melanggar aturan karena belum mempunyai SIM.
Dari tahun 2000-2010 statistik penjualan sepeda motor meningkat di setiap tahunnya. Bahkan di yogyakarta saja setiap bulannya bisa terjual 6000 unit (PUSTRAL, UGM). Tak heran jika sekarang jalan-jalan di yogya akan sangat kagum melihat motor yang sudah seperti semut berbaris. Tak ayal semua itu menyebabkan banyak masalah juga. Parkir, kemacetan juga polusi. Mungkin para produsen sepeda motor yang mendapat keuntungan dari semua masalah ini.

Bagaimanakah nasib sepeda ? banyak gerakan-gerakan untuk kembali menggunakan sepeda. Komunitas-komunitas sepeda juga bermunculan. Bahkan di 2013 Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Roy Suryo, bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc., meluncurkan gerakan daulat bersepeda di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Sabtu (16/2). Ditandai dengan penandatangan prasasti komitmen bersama mewujudkan “Jogja Republik Sepeda” (www.ugm.ac.id). Banyak plang penunjuk arah untuk alternatif bagi pengguna sepeda di ruas-ruas jalan yogyakarta kemudian bermunculan sebagai bentuk pelaksaan gerakan ini. Di akhir pekan juga banyak ditemui berbagai komunitas sepeda berkonvoi di jalan atau hanya sekedar berkumpul-kumpul, jalan solo dan malioboro menjadi tempat yang favorit.

Kemudian perlahan sepeda kembali menjadi tren, seakan menjadi angin segar bagi produsen sepeda. Banyak model sepeda baru ditawarkan dengan harga yang bermacam-macam ratusan bahkan jutaan rupiah. Varian-varian sepeda juga semakin komplit menyesuaikan dengan permintaan. Toko-toko sepeda menjadi ramai kembali dipenuhi orang yang ingin mendapatkan sepeda. ini juga menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka yang bergerak dibidang bisnis sepeda.
Namun sampai sekarang juga tidak kita lihat adanya penurunan intensitas pengendara motor di jalanan. Bahkan sepertinya meningkat, di jam-jam tertentu beberapa sudut jalanan masih terlihat padat bahkan cenderung macet. Perubahan arah jalan dan juga buka tutup dilakukan untuk mengatasi kemacetan ini. Sepertinya gerakan kembali ke sepeda ini memang belum menampakan hasil yang signifikan.
Sepeda saat ini tidaklah seperti sepeda ketika dulu yogyakarta di kenal dengan kota sepeda. Dulu orang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi karena memang tidak ada pilihan lain selain sepeda. Sepeda motor yang masih menjadi barang mewah dan jauh dari jangkauan kemampuan masyarakat kala itu. Juga aktivitas yang tidak sepadat sekarang. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani yang mana area kerjanya hanya di sawah yang tidak terlampau jauh dari rumahnya. Baru kemudian setelah anak-anak petani itu sekolah dan bekerja di kota maka dibutuhkan alat transportasi yang lebih efektif menunjang aktivitasnya.
Kenyataan bahwa saat ini sepeda memang tidak lagi efektif untuk mendukung aktivitas terutama bagi mereka yang tinggal di pinggiran dan mempunyai aktivitas di pusat kota. Semisal dari minggir untuk ke kota yang jaraknya 23 Km jikalau ditempuh dengan menggunakan sepeda diperlukan waktu sekitar 1-1,5 jam. Kalau hanya pulang pergi tentu itu tidak masalah. Namun bagi mereka yang aktivitasnya tidak hanya di satu tempat itu akan sangat menguras energi yang akan mengurangi kinerjanya. Mungkin untuk saat ini sepeda memang lebih cocok untuk sarana rekreasi dan olah-raga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.