Mangli – Mencoba sisi lain Gunung Sumbing

Mangli – Mencoba sisi lain Gunung Sumbing

Mangli, Kaliangkrik… sudah setahun lebih ketika saya dan teman saya mendaki ke Gunung Sumbing dari dusun ini. Sebuah dusun yang sangat sepi di kaki Gunung Sumbing. Kaliangkrik sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang. Sebenernya saya tidak ada niat untuk menulis cerita pendakian ke Gunung ini karena beberapa alasan. Akan tetapi cuaca pada saat saya menulis ini begitu mirip dengan cuaca saat saya menembus merangkaki lereng Gunung Sumbing.

Pendakian waktu itu sebenarnya adalah untuk memenuhi keinginan teman saya. Berkali-kali dia bilang kalau naik pas musim hujan itu enak, udaranya segar karena tidak ada debu seperti kalau musim kemarau dengan tanahnya yang kering. Sebagai teman yang baik saya akhirnya menyanggupi keinginannya untuk mendaki ke Gunung Sumbing melalui Kaliangkrik. Tentu ini dipilih karena jalurnya yang sepi karena memang bukanlan jalur pendakian yang resmi.

Ada dua jalur di kaliangkrik yang biasa digunakan, melalui Dusun Butuh dan Mangli. Dan Mangli menjadi pilihan kami untuk mengawali pendakian. Karena tidak ada basecamp kami langsung menuju ke rumah Bapak Kadus Mangli. Ketika sampai rumahnya sekitar jam 1 siang kami harus menunggu sebentar karena beliau sedang ada kegiatan di Kelurahan. Sembari menunggu saya sedikit melihat-lihat dusun ini. Sepi sekali, hanya terlihat beberapa orang saja yang terlihat ketika itu. mungkin karena siang hari dan penduduk sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

Setelah pak Kadus pulang kami segera memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kami. Sambil menunggu hujan sedikit reda kami ngobrol-ngobrol dengan pak kadus. Beliau juga menjelaskan bahwa jalur di Mangli ini sebenarnya sering digunakan meskipun hanya oleh warga setempat. Ketika malam 1 syuro (penanggalan Jawa) masyarakat sekitar beramai-ramai mendaki ke puncak Sumbing. Tapi beberapa pendaki juga terkadang naik melalui jalur ini.

Sambil ngobrol-ngobrol kami meminta beberapa gambaran singkat mengenai jalur pendakiannya. Pak Dukuh kemudian menerangkan bahwa jalurnya sebenarnya tidak terlalu sulit. Hanya mungkin ada beberapa percabangan yang sedikit membingungkan. Dan karena itu kami minta untuk digambarkan denah sederhana. Dan hujan sepertinya sudah mulai reda, kami segera bersiap dan berpamitan dengan pak dukuh untuk memulai pendakian.

Dan sekitar pukul setengah empat kami sudah siap untuk memulai pendakian. Sebelum berangkat pak dukuh masih memberi sedikit petunjuk. Karena lereng jalur pendakian sudah terlihat dia hanya bilang selama melihat “tebing putih” itu tidak akan tersesat. “Tebing itu terletak tak jauh dari pos 3” beliau menambahkan. Dan kami segera pamit dan memulai pendakian.

Tak sampai lima menit kami sudah sampai di batas perkampungan. Tiba di tengah ladang puncak Gunung Sumbing nampak begitu dekat. Tebing putih yang dikataan pak Dukuh tadi juga sangat terlihat jelas. Ah.. paling dua jam sampai ke tebing itu” aku berkata dengan temanku.. dia hanya tertawa saja.

Sambil menyusuri jalan makadam yang tengah diperbaiki kami bertemu beberapa penduduk yang baru dari ladangnya. Ternyata tidak sepi-sepi amat pikirku… disebelah kanan terlihat perbukitan dengan pohon –pohon pinus dengan batangnya yang menguning. Dan tak terasa kami sampai di pintu hutan. Di tempat ini terdapat sebuah lapangan yang cukup luas, mungkin seluas lapangan voli. Di belakangnya langsung bertemu dengan bukit yang tidak tidak terlalu tinggi. Kami berhenti sejenak disini menyiapkan jas hujan karena gerimis mulai turun.

Meski sempat bingung mencari jalannya, akhirnya ketemu juga. Rumput yang lebat menutupi pandangan kami. persis terletak di sebelah kanan bukit dan berbatasan langsung dengan jurang. hawa yang lembab sangat terasa sekali di sini mungkin karena sangat jarang terkena sinar matahari akibat pepohonannya yang cukup lebat. tak lama kemudian kami bertemu dengan sebuah sungai kecil.

Pohon-pohon pinus dan cemara yang cukup tua menyambut perjalanan kami mulai dari sini. Nah dari sini nih gerimis mulai berubah menjadi hujan, cukup lebat hingga menembus rimbunnya hutan pinus. Mungkin ketika cuaca cerah tempat ini akan sangat nyaman untuk istirahat. Rimbunya pohon pinus dengan rumput-rumput hijau yang menghampar. Lamunanku pudar seiring hujan yang semakin menjadi dan kami mulai meniggalkan hutan pinus. Sebuah jalan dipunggungan bukit yang menjadi sedkit licin kembali menyadarkan bahwa kami datang ke sini bukan untuk mendapatkan sebuah pendakian yang menyenangkan.

Kami mempercepat langkah memasuki rimbunnya pepohonan dan samar-samar terdengar seperti sebuah aliran air yang deras. Di tempat inilah pos pertama jalur ini berada. Sebuah tempat dengan pepohonan yang rimbun dengan air terjun kecil yang sangat jernih airnya. Kami istirahat sedikit lama ditempat ini sambil makan roti dan minuman hangat yang sudah kami persiapkan dari rumah pak dukuh. Mungkin baru 1 jam kami berjalan, namun rasanya sudah sangat lama sekali.

Dari pos 1 ini pendakian tidak akan semakin menyenangkan karena jalur yang sedikit terjal. Dan jalan sempit yang tak jauh beda dengan parit itu juga menambah sensasi tersendiri. Meski kabut tidak terlalu tebal namun cukup membatasi pandangan kami. Sudah sekitar setengah jam kami berjalan namun kami juga belum menemukan persimpangan yang mempertemukan dengan jalur Dusun Butuh. Sesekali kami melihat denah dari pak Dukuh, jalur yang jarang dilewati seperti ini kadang sangat menyesatkan. Jalan yang terlihat bagus terkadang adalah sebuah jalan buntu yang hanya digunakan oleh para pencari rumput.

Dan benar saja, di akhir  bukit yang kami daki kami bertemu dengan jalan yang cukup bagus. Arah ke kanan nampak sering dilewati orang. Begitu juga yang ke kiri, setelah sedikit melihat kanan-kiri, kedua arah ini jalurnya membawa ke bawah. Menurut denah kami harus melewati jalan ke atas bukit tak jauh dari tempat kami naik tadi. Namun ternyata kami tidak melihat ada jalur yang menuju ke atas.

Hari mulai gelap dengan hujan yang makin deras. Kami terus mencari jalan untuk menuju ke pos 2. Kata pak dukuh kami hanya perlu berjalan ke kiri 5 meter dari jalan kami datang dan ambil kanan. Namun jalan masuknya ternyata telah tertutup oleh semak yang cukup lebat. kami akhirnya menerobos semak itu, dan benar saja, ternyata ini jalannya meskipun lebih mirip dengan parit karena derasnya air hujan.

Sekitar pukul setengah tujuh malam kami sampai di ujung jalan. kami mendapati sedikit tempat untuk berteduh karena pepohonan yang cukup rimbun. Karena sudah waktunya makan malam tentu kami sekalian mengisi perut, tentu tidak memungkinkan kami masak dalam hujan lebat itu. akhirnya roti yang masih tersisa menjadi menu utama dengan air hangat yang ada di termos. Karena rencana kami akan camp di pos 3 maka kami terus jalan saja.

Setelah sekitar sepuluh menit berjalan kami akhirnya menemukan sebuah tempat yang datar muat sekitar 3 tenda. dan inilah pos 2 yang sebelumnya sudah di informasikan sama pak dukuh. Dari tanahnya terlihat belum lama pos ini dibangun. karena kami baru saja istirahat maka kami lanjut saja berjalan. Di sinilah kami mulai bingung karena jalannya tidak terlihat. Kami terus mencari jalan menuju ke pos 3. Namun karena semua sudah tertutup semak kami sedikit kesulitan untuk mencarinya. Hujan yang masih belum reda juga menyulitkan pandangan.

Setelah mencoba-coba akhirnya ketemu jalan yang harus kami lewati. Sebuah jalan kecil yang hanya muat satu orang di tepi tebing. Sedikit licin, salah sedikit bisa langsung terjun ke jurang. untungnya itu tidak terlalu panjang, mungkin sekitar 15 meter saja. setelah melewati pinggiran jurang itu suasana gelap mulai kembali lagi karena rimbunnya pepohonan. Rimbunnya dedaunan cukup membuat hujan tidak langsung mengenai kepala, meskipun sebenarnya juga kami sudah tidak peduli lagi hujan mau berhenti atau tidak.

Hampir jam 8 malam ketika kami sampai di tempat yang sedikit terbuka. Bahkan dengan guyuran hujan yang begitu derasnya saya masih bisa mengantuk. Mungkin karena saking lelahnya, kaki juga sudah seperti es. Bahkan sempat juga membayangkan segelas teh manis hangat dengan gorengan. Melihat teman saya juga sudah tampak pucat, saya sadar kami harus segera mencari tempat untuk mendirikan tenda.

Setelah berjalan beberapa menit tempat yang cocok belum juga kami temukan. Rencana awal kami akan camp di pos 3. Namun karena pos 3 tempatnya sangat terbuka kami memutuskan untuk mencari sebelum sampai ke pos itu. sayangnya, di dekat tebing-tebing seperti ini sangat sulit untuk menemukan tempat yang pas buat tenda. hanya ada satu-dua tempat saja dan itu sangat sempit ditambah sudah menjadi genangan air.

Kami terus berjalan hingga sepertinya kami hampir kehabisan tenaga dan badan mulai terasa sangat dingin. Saya putuskan saja mendirikan tenda di jalan daripada kelamaan dan hal-hal yang tidak diinginkan muncul. Sebuah tempat di bawah tebing sebelum pos 3 menjadi tempat yang kami pilih untuk mendirikan tenda. Meski harus membersihkan beberapa semak namun tempat ini sangat nyaman. Terlindung dari hujan dan angin juga tidak bisa langsung mengenai tenda.

Setelah tenda berdiri kami langsung masak air dan mengganti baju kami yang basah. Setelah kami masak air hangat dan makan kami segera sholat maghrib dijamak dengan Isya’. Hujan masih juga belum reda ketika kami siap-siap untuk tidur. Samar-samar juga terdengar angin yang bertiup dengan kencang dari arah pos 3, mungkin badai tengah mengamuk di tempat itu. Untung saja kami tidak jadi mendirikan tenda di tempat itu. Lelah yang sudah tidak tertahankan akhirnya membuat kami terlelap.

Suara azan menyusup dibalik riuh hujan yang jatuh di atas tenda ketika mata saya terbuka. Namun badan sepertinya masih enggan untuk bergerak. Rasanya masih sangat nyaman sekali bersembunyi di dalam sleeping bag. Baru setelah jam 5 pagi badan ini berani untuk bangun dan sholat subuh dengan tetap di dalam sleeping bag. Bagaimana kabar kondisi di luar ? tentu masih tetap hujan…

Sunrise, jelas kami sudah tidak mengharapkannya. Karena ini sudah sangat terlambat, disamping cuaca memang tidak memungkinkan. Dari raut wajahnya, sepertinya teman saya bahkan sudah tidak punya semangat untuk melihat puncak. Tapi karena ini pendakian Gunung Sumbing yang pertama baginya saya merasa harus memberinya semangat. Saya tidak mau saja melihat orang yang menyesal di kemudian hari hehe… tapi juga saya tidak bisa memaksa, jadi saya hanya bilang kalau nanti sampai jam 8 pagi hujan tidak juga reda kita tidak perlu ke puncak. Dan tentu cuaca seperti ini sangat enak buat bermalas-malasan di dalam sleeping bag.

Tak terasa kami tertidur cukup lama, melihat jam tangan sudah hampir jam delapan. Meski masih gerimis, tapi dapat saya rasakan ada sedikit sinar matahari yang menembus. Sambil menunggu saya membuat kopi, teman saya masih dengan nyennyaknya di dalam sleeping bag. Nampaknya memang sudah kelelahan dan itu tidak mengagetkan karena saya juga merasakan hal yang sama. Dan setelah dia terbangun saya mulai mempersiapkan keperluan menuju puncak. Dan sekitar jam setengah 9 kami berangkat.

Sebentar berjalan kami sudah sampai di sebuah sungai kecil yang sangat jernih airnya meskipun hujan turun dari kemarin. Dan tak jauh daari tempat itu adalah pos 3 dengan hanya ada satu pohon yang berdiri di sana. Namun di sekitar tempat itu yang ada hanyalah beberapa rumput yang mulai bersemi setelah kebakaran.

Dari pos 3 kami hanya harus terus berjalan lurus hingga akhirnya sampai di puncak. Ada dua percabangan, ke kanan untuk langsung menuju ke kawah dan ke kiri untuk sampai di puncak Watu Lawang. Puncak di jalur ini bukanlah puncak tertinggi di Gunung Sumbing. Medannya terlalu berbahaya untuk bisa mencapai puncak utama yang berseberangan dengan jalur ini. Namun untuk masuk ke kaldera ini adalah jalur paling singkat.

Namun kami lebih memilih menuju puncak untuk melihat suasa yang lebih terbuka. Angin bertiup sangat kencang ketika kami sampai di puncak watu lawang. Dinamakan puncak Watu Lawang karena di puncak ini terdapat batu (watu) yang terhimpit diantara dua batu lainnya dan menyerupai dengan lawang (pintu). Terdapat beberapa pohon edelweis di puncak ini. Dan tentunya kawah Gunung Sumbing nampak sangat jelas dari puncak. Dari arah yang berlawanan terlihat Merapi dan merbabu sedikit tertutup awan. Karena kencangnya angin dan waktu yang semakin siang membuat kami harus segera turun kembali ke tenda.

Kaldera Sumbing

Sesaat sebelum berjalan turun dari puncak kami sempat melihat penghuni asli Gunung ini. Namun sebelum kami melihat dengan jelas dia sudah melompat turun dengan cepat mungkin satu kali lompatannya mencapai 3-4 meter. Baru kami tersadar kenapa tidak semua sisi-sisi Gunung bisa kita daki seenaknya. Mungkin tanpa sadar, karena menuruti ego dan kepuasan kita, penghuni-penghuni asli seperti ini akan risih dan akhirnya tersingkir. Dan mungkin karena itu juga ijin untuk membuka di jalur pendakian tidak pernah mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang.

Kami segera berjalan turun menuju tenda kami. Angin masih saja bertiup kencang hingga rasanya mampu membawa tubuh kami terbang. Sesekali kami bersembunnyi dibalik tanah untuk berlindung dari angin yang menerjang. Namun kami masih bersyukur karena angin ini tidak dibarengi dengan hujan.

Karena sudah sangat lapar, begitu sampai tenda kami langsung masak. Tidak ada menu yang spesial, sekedar untuk isi perut saja. Padahal seharusnya di musim seperti ini sangat dibutuhkan menu-menu yang sangat spesial. Setelah makan kami segera saja kami siap-siap untuk turun ke Mangli.

Hampir setengah dua siang akhirnya kami sudah siap untuk turun. Sinar matahari sedikit menembus diantara tipisnya kabut, cukup menghangatkan tubuh yang sedari kemarin diterpa air hujan. beruntung siang itu hujan tidak turun, sehingga kami bisa menikmati lebatnya hutan di jalur itu. burung-burung juga terdengar berkicau di kejauhan. Namun kami juga belum berjumpa dengan satu orang pun. Nampaknya memang hanya kami berdua yang melewati jalan itu dari kemarin.

Tak terasa kami sudah sampai di pos 2, ternyata pemandangan di pos ini cukup indah. sekelilingnya didominasi dengan rumput-rumput dan ilalang. Tepat didepannya terdapat jurang yang cukup dalam dengan samar-samar terdengar aliran air yang mengalis sampai di dusun mangli. Kami percepat langkah karena cuaca sedikit panas mulai dari sini.

Sebelum sampai di pos 1 kami sempat beristirahat sebentar. Tidak sampai lima menit kami meneruskan langkah. Bari beberapa langkah, tiba-tiba kami dikejutkan oleh seekor babi hutan yang tengah berlari, nampaknya si babi hutan tak kalah terkejutnya hingga menghentikan langkahnya untuk kemudian berbelok arah. Dibelakangnya ada beberapa anjing pemburu yang mengejarnya. Nampaknya si babi hutan sedang minum di sungai ketika para anjing itu menyergap. Saya sendiri bari sadar kalau baru kali ini melihat babi hutan sedekat itu.

Kami terus berjalan mengingat mendung yang sudah mulai menebal di atas pucuk pohon cemara. Langkah semakin dipercepat agar tidak sampai kehujanan. Namun masalah kemudian muncul, kami sadar kalau jalan yang kami lalui ternyata sedikit bergeser dari yang seharusnya. Ah.,,.. emang ada-ada saja kalau namanya buru-buru. Baru setelah melihat ladang warga kami tahu kalau harus mengambil arah ke kiri untuk kembali ke jalan yang benar. Dan sampailah kami di pintu hutan, dari sini masih harus berjalan sekitar 500 meter untuk sampai di tempatnya pak dukuh.

Kami terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Hujan turun menemani langkah kami menuju ke rumah… meski tidak mendapat panorama yang maksimal namun kami cukup puas. Keadaan hutan yang lebih asri dan juga ketenangan yang tiada duanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.