Tak Akan Lari Gunung Dikejar; Hijaunya Sabana Gunung Merbabu

Gunung Merbabu menjadi tujuan para wisatawan Gunung yang mengisi long Weekend. Sudah tidak perlu diceritakan lagi bagaimana keindahan gunung ini. Dari ke-lima jalurnya mungkin jalur Selo menjadi jalur yang paling ramai di lalui. Keindahan sabana yang begitu menyejukkan mata dengan Gunung merapi sebagai Backgroundnya. Sudah dirancang dari jauh hari kami ber-10 akan melalui jalur ini juga. Waktu sudah ditetapkan pada 7-8 Mei. Tentu perjalanan awal dari pendakian ini harus dimulai dari bagaimana menyisir jalanan Blabak (Magelang) sampai ke Selo (Boyolali). Setidaknya satu tahun sekali saya lewat jalan ini. dari mulai aspal lama berganti yang baru hingga berganti dengan jalanan beton.

Dari blabak sampai gardu pandang Ketep jalanan masih cukup nyaman dan lancar. Sebagian besar jalan sudah diganti beton. Nah selepas ketep… mungkin bisa dibilang 90% sudah hancur. Entah berapa banyak truk dengan muatan penuh lewat setiap harinya. Sepertinya tidak usah dihitung, yang jelas semua truk itu yang bertanggung jawab atas kerusakan jalan ini, iya tidak ? masak ya para pendaki dengan carrier dengan muatan penuhnya ? hehehe…Karena jalanan yang rusak itu juga jadwal kami yang sudah mundur menjadi semakin molor. Rencana kami akan mulai nanjak sekitar jam 1 siang, namun akhirnya kami baru bisa berangkat dari basecamp jam 3 lebih. Sedikit kabar baik karena puncak kepadatan pendaki terjadi di malam sebelumnya. Sabtu kemaren  lalu-lintas pendakian lebih didominasi arah turun.

Hujan turun saat kami selesai makan siang di basecamp, namun sepertinya itu hanya seperti sambutan bagi pendaki yang baru saja sampai di basecamp. Tepat setelah Asar hujan mulai reda dan kami mulai berjalan setelah semua selesai packing. Udara sangat segar sekali, sangat berbeda dari ketika terakhir kali ke sini tahun lalu… penuh debu dan sangat kering. Meski begitu, jalanan licin menjadi gantinya meski tidak begitu menyulitkan pendakian.

Satu setengah jam mungkin kami sudah berjalan, tapi rasanya tanda-tanda pos 1 masih belum terlihat juga. Dari sini sudah terbayang bahwa, mungkin akan sampai di Sabana 2, tempat yang akan kita rencanakan untuk camp sudah lewat jam 7 malam. Itu sudah sangat molor dari rencana semula yang sampai sabana 2 sebelum sunset.

Sampai juga kami di pos 1 Dok Malang, kami istirahat di tempat ini cukup lama. Sedikit gerimis dari embun yang hanya sekejap berlalu menemani waktu istirahat kami. Saya hanya merasa aneh pada satu hal, saya pikir botol minum saya bocor… ah.. baru sadar kalau orang pilek itu boros minumnya. Mau gimana lagi dari pada tambah parah mending boros minum. Baru sampai pos satu saja sudah hampir 600 Ml.

Perjalanan ke Pos 2 kami lanjutkan sekitar jam 5 kurang sedikit. Ritme perjalanan lebih pelan dari sebelumnya, bahkan harus beberapa kali berhenti di beberapa langkah. Sebenarnya wajar sih karena ada beberapa pemulanya. Dan tujuan sebenarnya dari pendakian ini adalah itu hehe… mengantar seorang bapak-bapak dengan anaknya ke puncak Kenteng Songo.

Mungkin sekitar setengah 6 kami sudah sampai di Simpang macan. Ketika istirahat di sini, masih terlihat banyak sekali rombongan yang turun. Dan katanya masih ada beberapa di belakangnya. Bisa dibayangkan seperti apa ramainya malam sebelum ini, sampai-sampai jam segitu masih banyak yang turun. Saya hanya berharap semoga masih ada tempat untuk mendirikan tenda di sabana 1 atau sabana 2.

Setelah berjalan sekitar 15 menit dari simpang macan kami sudah harus menggunakan penerangan. Dan entah karena gelap atau sudah kelelahan, tapi tampaknya perjalanan kami semakin lambat. Dalam hati sudah sedikit pesimis akan mampu untuk sampai di sabana 2. Ah mungkin hanya karena lapar saja pikirku, nanti habis makan juga semangat lagi.

Sampai pos 2 kami hanya istirahat sebentar dan langsung menuju pos 3, rencanannya kami akan makan malam ditempat itu. meski sedikit lebih lama dari seharunya tapi kami bisa sampai di pos 3 sekitar jam setengah 8. Kami mulai masak, dan kemudian makan. Rencananya setelah sholat dan makan kami akan melanjutkan perjalanan. Namun sepertinya beberapa orang sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Akhirnya, Karena beberapa pertimbangan kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 ini. lagian, hidung saya juga sudah mampet. Keputusan camp di pos 3 adalah yang paling pas, ndak seru nanti kalau semua jadi ikutan pilek hehe… setelah dapat tempat, kami segera bongkar muatan dan setting tenda. Sholat dan kemudian bikin air anget. Didalam pikiran masih mengutak-utik rencana menuju puncak esok pagi. Kalau tidak mau jadwal sampai rumah mundur, berarti kita sudah harus menuju ke puncak pada ja 3 atau 4 pagi. Oh ya, ada satu teman kami yang tidak bisa berangkat bersama dari basecamp. Namun dia nyusul pada malam harinya. Mungkin sekitar jam 10 malam ketika dia sampai di tenda kami.

Mungkin sekitar jam 11 malam dua tenda sudah sepi, penghuninya mungkin sudah bermimpi entah ke mana. Saya masih ngobrol dengan dengan beberapa orang yang masih terjaga hingga satu-persatu mulai ngantuk dan menghilang dari peredaran.  Kemudian saya juga menyiapkan Sleeping Bag dan menyusul mereka. … . . .

Setengah 2 malam tiba-tiba terbangun… mungkin karena banyak minum jadi banyak juga yang keluar. saya berlari keluar tenda dan mencari tempat yang nyaman…  wuaahh.. nikmat sekali,… langit begitu cerah dengan kerlip bintang dan di bawah juga terlihat gemerlap kota Boyolali… ah sayang sekali kamera tidak terbawa. Beberapa nyala batre para pendaki juga terlihat bergerak ke arah pos 3, ternyata masih juga ada yang naik pada pagi itu. Karena masih belum pagi maka tidak ada pilihan selain kembali tidur…

Jam setengah lima, saya terbangun… orang di kiri saya sudah tidak ada… keluar cek tenda sebelah kiri kosong, tenda depan kosong… lah pada ke mana ini orang-orang.. kok nggak ada yang bangunin…  sepertinya obat flu yang saya minum semalam benar-benar membuat saya tidur sangat nyenyak sekali sampai-sampai sama sekali tidak terbangun. Saya berpikir mereka sudah menuju puncak, namun setelah dicek ternyata mereka tidak pergi bersama-sama. Wah… keterlaluan ini… saya tidak dibangunin.

Niatnya mau langsung nyusul, tapi kalo belum ngopi rasanya masih ndak ada tenaga. Sambil menunggu air masak saya kontak mereka semua, 2 orang Bapak dan anaknya masih dalam pertengahan jalan menuju sabana 1 kemudian 3 orang baru saja sampai sabana 2. Dan satu lagi sepatunya masih ada berarti Cuma jalan-jalan liat sunrise di sekitar pos 3. Trus harus ngapain ini haha… karena tujuan utamanya si bapak sama anaknya ya udah nyusulin logistik aja ke mereka. sambil ditemani teman saya yang baik, kami menyusul mereka karena masih diperjalanan ke sabana 1, tapi ya itu… ngopi dulu hehe… karena takut kelamaan akhirnya kopi saya masukkan botol saja. lalu kami langsung jalan…

Dari pos 3 saya ambil jalan yang sebelah kanan saja untuk lebih cepat sampai di atas meski lebih terjal. Namun setelah sampai di atas ternyata si bapak sama anaknya masih berada di bawah, padahal saya pikir sudah sampai di sabana 1. Di sini si anak sudah sedikit kelelahan, mungkin karena belum sarapan juga. tapi karena masih mau jalan ya kita lanjutkan saja sampai di sabana 1, biar sarapannya lebih enak hehe…

Sampailah di sabana 1 hmmm… kami sarapan dengan roti dan rumput hijau… matahari sudah lumayanan membuat hangat. Kami istirahata sebentar di sini sambil mengambil beberapa gambar sekeliling. Menyenangkan sekali melihat padang rumput di pos ini begitu hijau dan menyejukkan mata. Edelweis juga sudah mulai kuncup dibeberapa tempat, mungkin sebentar lagi mekar.

Setelah saya rasa sudah cukup saya menawarkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun sedikit alot mereka menjawab, mungkin karena sudah terlalu lelah. Tapi saya sedikit kasih iming-iming tentang bagaimana indahnya ketika di atas sana. Sebuah permadani hijau yang membentang di atas awan hehe… mungkin seperti itulah penampakannya.  Dan mereka akhirnya mau melangkahnkan kakinya.

Sejengkal-demi sejengkal kami hampir mencapai sabana 2. Namun sepertinya si mbaknya sudah mencapai batasnya. Mungkin tenaganya sudah habis, terpaksanya kami hanya bisa sampai di lereng sebelum sabana 2. Meski sedikit kecewa tapi tak jadi mengapa karena dari sini pemandangan sudah lumayan indah untuk dinikmati. Puncak bisa menunggu kapan saja, ibarat pepatah.. tak akan lari gunung dikejar…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.